KUTIPAN – KUTIPAN SEJARAH TUBAN
a. TUBAN SAAT PEMERINTAHAN AIRLANGGA.
Rupanya hal ini disebabkan karena Tiongkok, di mana perniagaan luar
negeri menjadi urusan pemerintah, semata-mata berdagang dengan
Sriwijaya seperti dahulu. Pelabuhan Tuban menurut pengaturan jalan-jalan
menghubungkan kota tersebut dengan pusat negara yang mungkin sekali
letaknya agak ke dalam. Sejumlah prasasti dari zaman Airlangga yang
didapat di daerah Babat, Ngimbang dan Ploso, menunjukkan bahwa justru
daerah melalui jalan dari Tuban ke Babat menuju ke Jombang mendapat
perhatian yang besar dari Airlangga.
b. BUKU YING YAI SHENG LAN.
Berita Tionghwa yang sangat penting, adalah uraian Ma Hua dalam bukunya
Ying Yai Shing Lan. Ma Huan adalah orang Tionghwa beragama Islam, yang
mengiringi Cheng Ho dalam perjalanannya yang ketiga (1413 —1415) ke
daerah-daerah lautan selatan. Kecuali soal-soal mengenai keadaan
berbagai daerah yang ber-hubungan dengan kedudukan politiknya, yang
sangat menarik perhatian adalah uraian Ma Huan tentang keadaan kota
Majapahit dan rakyatnya. Kalau orang pergi ke Jawa, katanya, kapal-kapal
lebih dahulu sampai ke Tuban. Kemudian dengan melalui Gresik yang
banyak penduduknya Tionghwa, orang tiba di Surabaya. Di sini orang
pindah ke perahu-perahu kecil berlayar ke Canggu. Melalui jalan darat,
orang kemudian pergi ke arah selatan dan tibalah orang di Majapahit,
tempat kediaman sang raja. Kotanya dikelilingi tembok tinggi yang dibuat
dari bata, dan penduduknya sejumlah kira-kira 300.000 orang.
Sang raja kepalanya terbuka, atau tertutup dengan mahkota dari emas,
memakai kain dan selendang, tidak berterompah dan selalu membawa satu
atau dua bilah keris. Kalau keluar ia naik gajah atau kereta yang
ditarik oleh lembu. Rakyatnya pun memakai kain dan baju, dan tiap orang
laki-laki mulai anak berumur 3 tahun memakai keris, yang hulunya indah
sekali, terbuat dari emas, cula badak atau gading. Kalau mereka
bertengkar sekejap saja mereka sudah siap dengan kerisnya. Mereka biasa
makan sirih, senang mengadakan perang-perangan dengan tombak bambu pada
perayaan-perayaan, suka bermain-main bersama waktu terang bulan dengan
disertai nyanyian-nyanyian berkelompok dan bergiliran antara golongan
wanita dan pria, gemar pula menonton wayang beber (wayang yang
adegan-adegan ceriteranya digambar di atas sehelai kain, kemudian
dibentangkan antara dua belah kayu.dan diceriterakan isinya oleh
dalang).
Penduduk Majapahit terdiri atas tiga golongan ; orang-orang Islam yang
datang dari barat dan mendapatkan mata pencaharian di ibu kota, orang
Tionghwa yang banyak pula memeluk agama Islam dan rakyafcte- lebihnya
yang menyembah berhala dan tinggal bersama dengan anjing mereka.
c. BUKU LING – WAI – TAl – TA
Dari hasil-hasil kesusasteraan dapat pula diketahui sedikit ba-gaimana
keadaannya dalam zaman Kediri. Tetapi masih menarik perhatian ialah
keterangan-keterangan yang terdapat dalam berita-berita Tionghwa. Kitab
Ling wai tai ta yang disusun oleh Chou Ku Fei dalam tahun 1178
memberikan gambaran yang tidak didapat dari lain sumber tentang
pemerintahan dan masyarakat Kediri. Dikatakan misalnya, bahwa
orang-orang memakai kain sampai di bawah lutut, sedangkan rambutnya
diurai. Rumah-rumahnya sangat rapi dan bersih. Lantainya dari ubin yang
berwarna hijau dan kuning. Pertanian, peternakan dan perdagangan
mengalami kemajuan dan perhatian dari Pemerintah. Pun ada pemeliharaan
ulat sutra dan kapas. Hukuman badan tidak ada, orang-orang yang bersalah
didenda dan pembayaran berupa emas, kecuali pencuri dan perampok yang
dibunuh. Untuk perkawinan, keluarga anak perempuan menerima maskawin
berupa sejumlah emas. Alat pembayaran adalah mata uang dari perak.
Orang sakit bukan menggunakan obat, melainkan memohon sembuh kepada
dewa-dewa dan kepada Budha Tiap bulan ke 2 diadakan pesta air, dan orang
ber-perahu-perahu penuh kegembiraan; tiap bulan 10 perayaan
ber-langsung di gunung dan orang berduyun-duyun ke sana untuk
ber-senang-senang. Alat-alat musiknya terdiri atas seruling gendang dan
gambang dari kayu.
Tentang sang raja sendiri dikatakan, bahwa ia berpakaian sutra,
bersepatu kulit dan memakai perhiasan-perhiasan dari emas. Rambutnya
disanggul di atas kepala. Setiap hari ia menerima pe-jabat-pejabat dan
mengurus pemerintahan. Maka ia duduk diatas , singgasana yang berbentuk
segi empat. Sehabis sidang para pejabat itu menyembah tiga kali, baru
mengundurkan diri. Jika raja ke-luar, naik gajah ataupun kereta, ia
diiringi 500 sampai 700 orang prajurit dan rakyat di tepi jalan semuanya
jongkok sampai raja lewat. Dalam pemerintahan sang raja dibantu oleh 4
orang menteri terkemuka, yaitu rakryan kanuruhan, rakryan maha mantri i
hulu, rakryan mahamantri i rangga dan rakryan mahapatih. Mereka ini
tidak menerima gaji tetap, tetapi pada waktu-waktu tertentu menerima
hasil bumi atau lainnya.
Selanjutnya pemerintahan dilakukan oleh 300 orang pegawai, yang memegang
tata buku dan tata usaha : 1000 orang pegawai rendahan bertugas
mengurus per-bentengan, perbendaharaan negara, gudang-gudang persediaan
dan keperluan-keperluan para prajurit. Panglima tentara setiap se-tengah
tahun mendapat 10 tail emas dan para prajurit yang ber-jumlah 30.000
mendapat bayarannya setengah tahun sekali pula dan besarnya gaji sesuai
dengan pangkatnya. Demikianlah keterangan yang diperoleh dari sumber
Tionghwa. Hal-hal tersebut juga terdapat dalam Kitab Chu-fan-chi- oleh
Chau-Ju-Kau tahun 1225. Dalam buku tersebut diceriterakan juga, bahwa di
Asia Tenggara ada dua kerajaan yang terkemuka dan terkaya, pertama
ialah Jawa dan kedua Sriwijaya. Di Jawa ada dua macam agama yaitu agama
Budha dan agama para pertapa (maksudnya Hindu). Rakyatnya lekas naik
darah dan berani berperang, kesukaannya ialah mengadu ayam. Mata uangnya
dibuat dari logam campuran tembaga, perak dan timah.
Cikal Bakal Penguasa Negeri Tuban
Cikal bakal yang menurunkan adipati di Tuban adalah Prabu Banjaransari,
raja di Negeri Pajajaran (Atmodiharjo, 1984 :44). Karena beliau
dikarunia banyak putra, dan salah satu dari keturunannya yang dikemudian
hari menurunkan silsilah adipati Tuban.
Kala itu kerajaan Pajajaran yang berpusat di dekat Ciamis sedang
mengalami puncak kejayaan. Kemakmuran dan keadilan benar-benar dirasakan
oleh rakyat mulai dari ibukota kerajaan sampai ke pelosok-pelosok
pedesaan. Prabu Banjaransari yang bertahta adalah sosok yang sangat
bijaksana sehingga dielu-elukan oleh rakyatnya. Kemasyhuran nama Prabu
Banjaransari tidak hanya menjadi buah bibir rakyatnya saja, akan tetapi
keharuman namanya telah merambah sampai ke negeri-negeri manca.
Baginda raja juga dikaruniai banyak putra dan cucu. Salah satu putra
beliau adalah Raden Haryo Metahun. Berkah dari perkawinannya, R. Haryo
Metahun dikaruniai putra bernama Haryo Randukuning.
Suatu hari Raden Arya Randukuning meminta izin ayahanda dan ibundanya
untuk mengembara jauh ke timur. Tentu saja, niatnya itu ditolak
mentah-mentah oleh kedua orang tuanya. Namun, Prabu Banjaransari ketika
mengetahui alasan cucunya mengembara untuk menyempurnakan ilmu dan
menambah pengetahuan, maka segeralah baginda memberinya restu.
Sejak saat itu Raden Arya Randukuning meninggalkan kehidupan istana yang
serba mewah. Ia memilih mengembara ke arah timur menyusuri daerah
pesisir pantai utara Pulau Jawa. Tak peduli siang atau malam, Raden Arya
Randukuning terus berjalan menembus tebalnya hutan jati.
Sesampainya di kaki gunung Kalakwilis, Jenu, Raden Arya Randukuning
bekerja keras membuka hutan Srikandi yang membentang di sepanjang daerah
pantai. Atas kegigihan dan kesaktiannya, hutan itu dalam waktu sekejap
berhasil diubah menjadi perkampungan bahkan akhirnya menjadi sebuah
kadipaten yang diberi nama Kadipaten Lumajang Tengah. Setelah menjadi
adipati di Lumajang Tengah, Raden Arya Randukuning bergelar Kyai Ageng (
Kyai Gede Lebe Lontang).
Di dalam Babad Tuban dikisahkan, ketika berkuasa di Lumajang Tengah,
Kyai Gede Lebe Lontang berhasil memimpin rakyatnya untuk menapaki
kemakmuran. Stabilitas Kadipaten Lumajang Tengah sangat terjamin
mengakibatkan keamanan dan kemakmuran rakyatnya terjaga. Masyarakat
kecil tidak kekurangan suatu apa. Hewan-hewan piaraan berkembang biak
dengan pesat. Walau hewan-hewan piaraan itu berkeliaran secara bebas,
tak seorang pun berani mengambil yang bukan menjadi hak miliknya. Begitu
pula para durjana sama sekali tidak bisa berkutik karena kewibawaan
sang adipati. Beliau mempunya budi pekerti yang amat luhur dan patut
dijadikan teladan bagi para bawahannya. Hal itulah yang membuat para
abdi pemerintah dengan penuh kesadaran menjalankan roda pemerintahan
secara jujur. Kyai Gede Lebe Lontang berhasil menjalankan pemerintahan
di Lumajang Tengah selama ±20 tahun. Kabupaten Lumajang Tengah itu,
sekarang menjadi dusun yang bernama Banjar, Kecamatan Jenu.
Kyai Gede Lebe Lontang dikarunia seorang putra bernama Raden Arya
Bangah. Sesudah ayahandanya mangkat, Arya Bangah menolak untuk naik
tahta menggantikan ayahnya sebagai adipati di Lumajang Tengah. Ia
memilih berkelana bersama pengikutnya ke arah selatan.
Sesampai di kaki pegunungan kapur Rengel, Arya Bangah dan para
pengikutnya bahu-membahu membuka hutan untuk dijadikan perkampungan.
Siang dan malam Arya Bangah dan para pengikutnya bekerja keras untuk
mewujudkan cita-citanya. Setelah berhasil, tempat baru itu diberinya
nama Kabupaten Gumenggeng. Raden Aryo Bangah saat menjalankan
pemerintahan di Gumenggeng selama ±22 tahun lalu meninggal dunia. Bekas
Kadipaten Gumenggeng tersebut sekarang menjadi Pedukuhan Gumeng, Desa
Banjaragung, Kecamatan Rengel.
Raden Arya Bangah mempunyai seorang putra bernama Raden Aryo Dhandhang
Miring. Semenjak muda, Raden Aryo Dhandhang Miring senang menjalankan
tapa brata. Ketika melaksanakan tapa brata itulah Raden Aryo Dhandhang
Miring mendapatkan ilham yaitu setelah ayahnya mangkat, Raden Aryo
Dhandang Miring tidak boleh melanjutkan pemerintahan ayahandanya di
Gumenggeng karena cita-citanya yang mulia dan luhur tidak akan
terlaksana. Raden Aryo Dhandang Miring harus membuka areal hutan sendiri
yang terletak di arah barat laut Gumenggeng. Segala cita-citanya baru
berhasil jika putranya kelak membuka hutan bernama Papringan.
Selanjutnya Raden Aryo Dhandang Miring dan para prajuritnya menuju ke
barat laut untuk membuka hutan bernama Ancer – Ancer. Setelah hutan
tersebut menjadi pemukiman, maka diberi nama Kadipaten Lumajang. Raden
Aryo Dhandang Miring memerintah Kadipaten Lumajang selama ± 20 tahun.
Tersebutlah kisah, tatkala itu Raden ARYA DANDANG WACANA sedang membuka
tanah yang masih berupa hutan bambu yang bernama Papringan, tanpa diduga
– duga sebelumnya muncullah sebuah keajaiban dengankeluarnya air yang
dalam istilah jawa disebut (meTu) dan (Banyune),dan jika dirangkaikan
menjadi TUBAN.
Peristiwa itu oleh Raden ARYA DANDANG WACANAdijadikan sebagai tonggak
sejarah dalam memberi nama tanah tersebut dengan nama TUBAN, dan
selanjutnya kita kenal dengan nama Kabupaten Tuban, Sementara itu
sejarah pemerintahan Kabupaten Tuban diawali pada jaman Majapahit,
tepatnya ketika peristiwa agung pelantikan RONGGOLAWE untuk menjadi
adipati Tuban pertama oleh Raja Majapahit Raden WIJAYA. Peristiwa
pelantikan itu dilaksanakan pada tanggal 12 Nopember 1293, yang pada
akhirnya oleh Pemerintah Kabupaten Tuban tanggal 12 Nopember dijadikan
sebagai Hari Jadi Tuban.
Versi lain mengenai nama Tuban ini dapat kita lihat sebagai berikut:
Tuban berasal dari kata Watu Tiban. Hal ini dikaitkan dengan sebuah
cerita bahwa ketika kekuasaan Majapahit berakhir, maka harta kekayaan
Majapahit dipindahkan ke Demak. Barang-barang yang dipindahkan ke Demak
tersebut termasuk adalah pusaka yang berbentuk Yoni. Guna
memindahkannya, maka dipercayakan kepada sepasang burung bangau.
Sesampai di Tuban, burung-burung tersebut diolok-olok oleh anak-anak
yang sedang menggembala. Tampaknya, sepasang burung bangau itu
tersinggung dan menjatuhkan barang bawaannya. Daerah tempat jatuhnya
batu pusaka tersebut kemudian diberi nama Tuban kependekan dari Wa (Tu)
Ti (Ban).
Menurut kebiasaan masyarakat Tuban yang mudah diarahkan untuk
melaksanakan tugas guna membangun negerinya. Sifat-sifat seperti itu
dalam bahasa Jawa disebut “Nges (Tu) ake kewaji (Ban).”Menurut bahasa
Jawa Kawi, Tuban berarti Jeram Kata Jeram dalam Bau Sastra
Djawa-Indonesia karangan S. Prawiroatmojo diartikan sebagai air lata
atau bisa berarti air terjun.
Menurut pendapat Drs. Soekarto kata Tuban berasal dari kata Tubo yaitu
sejenis tanaman yang dapat dibuat racun. Hal ini dibuktikan bahwa di
sebelah barat kota Tuban terdapat daerah yang bernama Jenu. Menurutnya,
kata Jenu dan Tubo memiliki arti yang tidak jauh berbeda.
TUBAN, SEJARAH DAN LEGENDA
Nama ‘Tuban’ berasal dari sebuah sumber air tawar yang ditemukan di
tempat tersebut. Peristiwa ini membuat orang menamakannya ‘me(tu)
(ban)yu” (keluar air). Sehingga tempat tersebut kemudian dinamakan
Tuban3. Dulunya Tuban bernama Kambang Putih4. Sudah sejak abad ke-11
sampai 15 dalam berita-berita para penulis China (pada jaman dinasti
Song Selatan 1127-1279 dan dinasti Yuan (Mongol) 1271-1368 sampai jaman
dinasti Ming th.1368-1644 ),
Berita catatan tentang bentuk phisik kota Tuban secara samar-samar
didapat dari berita kapal Belanda yang mendarat di Tuban yang dipimpin
oleh Laksamana muda Van Warwijck (Tweede Schipvaert) pada bulan Januari
th. 1599. Dalam berita itu disebutkan bahwa orang Belanda terkesan
sekali oleh kemegahan Keraton Tuban. Selain itu juga terdapat gambar
dari alun-alun Tuban pada abad ke 16, waktu diadakan latihan Senenan
Kota pelabuhan utama di pantai Utara Jawa yang kaya dan banyak penduduk
Tionghoanya. Orang Cina menyebut Tuban dengan nama Duban atau nama
lainnya adalah Chumin. Pasukan Cina-Mongolia (tentara Tatar), yang pada
th. 1292 datang menyerang Jawa bagian Timur (kejadian yang menyebabkan
berdirinya kerajaan Majapahit) mendarat di pantai Tuban. Dari sana
pulalah sisa-sisa tentaranya kemudian meninggalkan P.Jawa untuk kembali
ke negaranya.
Tapi sejak abad ke 15 dan 16 kapal-kapal dagang yang berukuran sedang
saja sudah terpaksa membuang sauh di laut yang cukup jauh dari garis
pantai. Sesudah abad ke 16 itu memang pantai Tuban menjadi dangkal oleh
endapan lumpur. Keadaan geografis seperti ini membuat kota Tuban dalam
perjalanan sejarah selanjutnya sudah tidak menjadi kota pelabuhan yang
penting lagi.
Mengetahui sejarah Tuban belum lengkap tanpa mengetahui nama-nama bupati
yang pernah memimpin Kabupaten Tuban tercinta ini. Periode kepemimpinan
di Kabupaten Tuban dapat dikelompokkan menjadi dua periode yaitu
sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan. Berikut nama-nama Bupati
Tuban beserta periode kepemimpinannya:
Nama Bupati sebelum kemerdekaaan Republik Indonesia (1945):
1. RA. DANDANG WATJONO ( 1264-1282 )
2. RH. RONGGOLAWE ( 1282-1291 )
3. RH. SIROLAWE ( 1291-1306 )
4. RA. SIROWENANG ( 1306-1326 )
5. RH. LENO ( 1326-1349 )||
6. RH. DIKORO ( 1349-1401 )||
7. RA. TEJO ( 1401-1419 )
8. RH. WILWOTIKTO ( 1419-1460 )
9. KH. NGRASEH ( 1460-1507 )
10. KA. GELILANG ( 1507-1553 )
11. KA. BATUBANG ( 1553-1573 )
12. RH. BALEWOT ( 1573-1628 )
13. P. SEKARTANJUNG ( 1628-1661 )
14. P. NGANGSAR ( 1661-1668 )
15. P.H. PERMALAT ( 1669-1686 )
16. P. SALAMPE ( 1686-1707)
17. P.H. DALAM ( 1700-1707 )
18. P. POJOK ( 1707-1723 )
19. P. ANOM ( 1723-1730 )
20. P. SOEDJONO POETRO ( 1730-1737 )
21. RA. BALABAR ( 1737-1748 )
22. P. SOEDJONO POETRO ( 1748-1755
23. RA. JOEDONGORO ( 1755-1766 )
24. RA. SURYO DININGRAT ( 1766-1773 )
25. RA. DIPOSENO ( 1773-1779 )
26. KT. TJOKRONEGORO ( 1779-1792 )
27. KT. POERWONEGORO ( 1792-1799 )
28. K. LIEDER SOERODINEGORO ( 1799-1802 )
29. R. SOEROADIWIDJOJO ( 1802-1814 )
30. P.TJITROSUMO VI ( 1814-1821 )
31. P.TJITROSUMO VII ( 1821-1841 )
32. P.TJITROSUMO VIII ( 1841- 1861 )
33. P.TJITROSUMO XI ( 1861-1883 )
34. RM SOEMOBROTO ( 1883-1893 )
35. RA. KOESOEMADIGDO ( 1893-1909 )
36. RA. PRINGGOWINOTO ( 1909-1919 )
37. RA. PRINGGODIGDO ( 1919-1927 )
38. R.M.A.A. KOESUMOBROTO ( 1927-1944 )
39. RT. SOEDIRMAN H ( 1944-1946)
Nama Bupati setelah kemerdekaan Republik Indonesia ( 1945 )
1. KH. MOESTA’IN (1946-1956)
2. R. SOENDAROE (1956-1958)
3. R.ISTOMO (1958-1959)
4. R. SANDJOJO (1959-1960)
5. M. WIDAGDO (1960-1968)
6. R. SOEPARMO (1968-1970)
7. R.H. IRCHAMNI (1970-1975)
8. MOCH. MASDUKI (1975-1980)
9. SOERATI MOESRAM (1980-1985)
10. Drs. DJOEWAHIRI MARTO PRAWIRO (1985-1991)
11. Drs. SJOEKOR SOETOMO (1991-1995)
12. H. HINDARTO (1996-2001)
13. Dra. H. HAENY RELAWATI RINI WIDYASTUTI, M.Si (2001-2006)
14. Dra. H. HAENY RELAWATI RINI WIDYASTUTI, M.Si (2006-2011)
15. Drs. KH.FATHUL HUDA,M.M. (2011-Sekarang).
Itulah nama-nama bupati yang pernah memimpin kabupaten Tuban.
Sekilas Tentang "Sunan Bonang"
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana
Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.
Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga
adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi
Hoo alias Sunan Ampel. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat
ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi
adalah makamnya di kota Tuban.
Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal,
kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang berasal dari
Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah
beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya
dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau.
Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari
Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan
Bonang. Mereka memperebutkannya.
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Bonang disebut Sayyid Kramat merupakan seorang Arab keturunan Nabi Muhammad.
SILSILAH
Terdapat silsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad
Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid
Ahmad Rahmatillah bin Maulana Malik Ibrahim bin Syekh Jumadil Qubro
(Jamaluddin Akbar Khan) bin Ahmad Jalaludin Khan bin Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin Alawi Ammil Faqih (dari
Hadramaut) bin Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin Ali Kholi'
Qosam bin Alawi Ats-Tsani bin Muhammad Sohibus Saumi'ah bin Alawi Awwal
bin Ubaidullah bin Muhammad Syahril Ali Zainal 'Abidin bin Hussain bin
Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAW)
KARYA SASTRA
Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang
tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya
Abu Sa'id Al Khayr.
Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti
penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.
Ada pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan
merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke
disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J.
Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan
Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.
KEILMUAN
Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia
mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian
beliau kombinasi dengan kesimbangan pernapasan yang disebut dengan
rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu.
Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang
Beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf
dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'.
Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah
dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam
penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal
huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya
diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an.
Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak
murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga
sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di
Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan
Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia.
Goa Akbar
Sinar Matahari pagi itu kembali menyinari kota yang menasbihkan dirinya
sebagai kota wali atau biasa juga disebut kota seribu goa yang sekilas
mirip dengan kota lainnya di Jawa Timur, namun inilah Kota Tuban. Awal
hari itupun kembali menghidupkan kembali denyut kehidupan kota kecil
ini. Tak terkecuali juga dengan Pasar Baru yang kembali dengan hiruk
pikuk khas pasar pasar di Pulau Jawa. Namun siapa sangka di tengah terik
matahari dan hiruk pikuk Pasar Besar Tuban ini tersimpan sebuah tempat
yang menyimpan keheningan, keindahan, kedamaian dan bahkan terik
matahari pun tan akan dapat menemukannya.
Tepat dibawah perut pasar besar tuban dengan sejuta kegiatannya
tersimpan dengan rapi Lukisan akan keindahan perut bumi Indonesia. Tepat
sekitar 10 -15 meter kedalam kita akan menemui sebuah Goa yang sangat
indah dan menyimpan cerita panjang di dalamnya, Goa Akbar namanya.
Sebuah nama yang cukup tepat untuk menggamparkan betapa akbarnya goa ini
sebenarnya.
Untuk menjangkau goa ini sangat mudah sekali, karena goa ini terletak di
pusat kota Tuban. Jika kita sedang berziarah ke Makam Sunan Bonang kita
bisa menaiki becak yang berjejer rapi sepanjang jalan untuk
mengantarkan kita. Ataupun jika kita membawa kendaraan kita dapat menuju
pasar baru tuban, maka petunjuk arah pun sudah sangat jelas. Dari
komplek perkiran bus ziarah Sunan Bonang pun sangat dekat, hanya sekitar
200 meter berjalan kaki.
-- Legenda --
Sekitar 500 tahun lalu, Sunan Bonang sedang melakukan perjalanan. Ketika
menemui goa ini, Kanjeng Sunan Bonang terpesona dan seketika berucap,
“Allahu Akbar”. Konon, sejak itulah, goa yang terletak di tengah Kota
Tuban itu disebut Goa Akbar. Versi lain diceritakan, karena sekitar goa
banyak dijumpai pohon Abar. Masyarakat setempat kemudian menyebutnya
Ngabar.
Kata Ngabar berasal dari bahasa Jawa yang berarti latihan. Konon, goa
ini pernah dijadikan tempat persembunyian untuk mengatur strategi dan
latihan ilmu kanuragan prajurit Ronggolawe, yang ketika itu berencana
mengadakan pemberontakan ke Kerajaan Majapahit. Pemberontakan itu
disulut oleh ketidakpuasan Ronggolawe atas pelantikan Nambi menjadi Maha
Patih Majapahit. Karena seringnya dijadikan tempat latihan, goa dan
daerah sekitarnya dijuluki Ngabar, yang kemudian seiring waktu menjadi
nama dusun yaitu Dusun Ngabar, Desa Gedongombo, Kecamatan Semanding.
Cerita mengenai asal usul ini memang berkembang bervariasi. Pastinya,
kata Akbar itu kini dipergunakan Pemerintah Kabupaten Tuban sebagai
slogannya. Akbar bermakna Aman, Kreatif, Bersih, Asri, dan Rapi.
Goa Akbar mengandung kisah keagamaan sangat tinggi. Diceritakan, konon
Sunan Bonang mengetahui goa ini karena diajak Sunan Kalijogo yang saat
itu masih bernama RM Sahid. Bila disimak cerita pada relief di dinding
sebelah utara pintu masuk, digambarkan RM Sahid yang adalah putra Bupati
Tuban ke-9 yang bernama Wilotikto diusir dari rumah karena bertabiat
kurang baik. Karenanya ia dipanggil dengan nama Brandal Lokojoyo.
Pertemuannya dengan Sunan Bonang di Kali Sambung, Brandal Lokojoyo
mengatakan kalau rumahnya di goa. Alkisah, setelah ia terusir, RM Sahid
memang tinggal di Goa Akbar. Perjalanan spiritual RM Sahid alias Brandal
Lokojoyo kemudian menemui jalan kebenaran, dan terakhir menjadi Sunan
Kalijogo. Beberapa tempat di Goa Akbar akhirnya dipercaya sebagai tempat
perjalanan religius Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, di samping
wali-wali yang lain.
Begitu memasuki goa dengan luas kurang lebih 1 ha ini maka kalimat saya
yang terucap adalah “Allahu Akbar”, setiap saya berkunjung pun perasaan
takjub akan maha karya Tuhan selalu terulang. Jauh dari perkiraan
wisatawan tentang goa yang gelap dan berbau kotoran kelelawar, kini di
dalam goa telah dibangun jalur dari paving block yang dibatasi oleh
pagar steinless steel. Selain pagar pembatas, di lintasan sepanjang 1,2
kilometer itu tertempel larangan balik arah, agar pengunjung tidak
sampai kebablasan tanpa memperhitungkan keselamatan. Di sana juga
terdapat sumber air yang bernama Kedung Tirta Agung.
Stalaktit dan stalagmit yang muncul di dalam goa pun semakin indah
akibat pantulan pantulan sinar lampu. Ornamen Ornamen gua pun diberi
nama tersendiri mengikuti akan bentuknya, sungguh unik. Sepanjang
lintasan ini terdapat setidaknya tiga ruang besar semacam hall. Ruang
besar ini kerap menjadi terminal pengunjung untuk bersantai sejenak.
Di akhir perjalanan terdapat semacam hall yang dinamakan Paseban Para
Wali atau tempat para wali menyampaikan fatwa dan ajaran agama. Di
tempat ini juga terdapat stalaktit dan stalagmiy yang seakan menjadi
hiasan ruangan ini, sungguh indah dan tetap nuansa religi masih kental
terasa, ditambah dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian
depan ruang, seakan menjadi podium bagi pembicara. Beberapa tempat di
Goa Akbar akhirnya dipercaya sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah
para sunan pada jaman dahulu kala.
Seiring beragamnya cerita yang menyelimuti, Goa Akbar memiliki banyak
ruang dan ornamen batu dalam berbagai bentuk, yang memiliki jalinan
kisah tersendiri. Kisah itu berkaitan dengan sejarah wali-wali dalam
melakukan syiar agama di desa-desa hingga kawasan pantura (pantai
utara).
Pertapaan Andong Tumapak. Tempat ini dipercaya sebagai tempat pertapaan
Sunan Bejagung (Sayyid Abdullah Asyari), penyebar agama Islam di Jawa
sebelum Wali Songo. Konon, kanjeng Sunan Bejagung bertapa untuk memenuhi
permintaan Bupati Tuban kala itu, untuk memohon petunjuk pada Tuhan
dalam menghadapi serangan musuh.
Sendang Tirta Merta berupa kolam air kehidupan yang bermakna kehadiran
goa ini diharapkan bisa menjadi lapangan kehidupan masyarakat Tuban dan
bisa meningkatkan kesejahteraan dan lapangan kerja.
Lorong Hawan Samodra. Berdasar penelitian, di dalam lorong tersebut
pernah ditemukan tanah bercampur ijuk, sehingga diduga dulu dipakai
tempat penyimpanan harta karun.
Ruangan Songgo Langit. Artinya dari sudur ruangan ini kita bisa melihat langit secara bebas melalui lobang angin.
Pertapaan Sela Kumbang sebagai tempat pertapaan yang terletak di atas tanah.
Gampeng Watu Naga. Bentuk batu-batu ruangan itu bila digabungkan akan mirip dengan ular naga.
Sela Turangga yaitu batu mirip kuda. Lorongnya bisa tembus ke Rumah Sakit Medika Mulia.
Muhamandhapa Sri Manganti. Ruangan seperti pendopo besar dan luas, yang
pernah digunakan sebagai tempat rapat, sidang, pertemuan para Wali
Songo.
Watu Gong atau sebuah batu yang bila dipukul bisa menghasilkan bunyi seperti gong.
Pasujudan Baitul Akbar, yaitu tempat ibadah bagi umat Islam. Tempat ini
pernah digunakan oleh Sunan Bonang untuk melaksanakan shalat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar