Rabu, 11 Maret 2020

Perang Bubat sebagai Cermin sebuah kekejaman dalam politik


Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M pada abad ke-14, yaitu di masa pemerintahan raja Majapahit Hayam Wuruk. 
Perang terjadi akibat perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat, yang mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan Sunda. Sumber-sumber rujukan tertua mengenai adanya perang ini terutama adalah Serat Pararaton serta Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.
Kidung Sunda adalah sebuah tulisan/naskah dalam bahasa Jawa pertengahan yang berbentuk syair (tembang), yang kemungkinan berasal dari Bali. Dalam kidung ini diceritakan tentang kisah pencarian seorang permaisuri Hayam Wuruk dari Majapahit, dan tragedi perang bubat yang memilukan. Diceritakan dalam beberapa pupuh, sebagai berikut :
Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah.
Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya. Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadapraja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.
Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak dari Sunda disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.
Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja,Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” 
Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. 
Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Ia berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong Raja Sunda yang seharusnya menjadi Raja bawahan. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.
Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.
Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka Raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn, untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah Patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira Prabu Hayam Wuruk ingkar janji. 
Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. 
Maka berpulanglah utusan Raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir Raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari. Sementara Raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia menjadi Negara bawahan Majapahit. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit.
Kemudian Raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.
Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan pertempuran tidak dapat dihindarkan.
Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya Prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.
Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi karena kalah jumlahnya, akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan Raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, Raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada Ratu dan Putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian sesuai ajaran Hindu mereka melakukan belapati (bunuh diri). Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.
Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran Putri Sunda. Tetapi Putri Sunda sudah tewas. Maka Prabu Hayam Wuruk pun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini.
Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula Prabu Hayam Wuruk yang merana.
Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).
Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip "Siwa dan Buddha" berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.
Analisis cerita dalam Kidung Sunda.
Berdasarkan uraian tiga pupuh di atas, penulis mencoba melakukan analisa sebagai berikut :
Dalam ketiga pupuh di atas tidak disebutkan secara jelas siapakah nama Raja Sunda, Ratu Sunda dan Putri Sunda yang datang ke Majapahit tersebut. Hal ini menyebabkan para ahli sejarah membuat suatu analogi dengan mempergunakan sumber-sumber sejarah yang lain. Analogi yang dilakukan oleh para ahli sejarah berdasarkan sumber-sumber lain tersebut bisa saja keliru atau tidak tepat.
Dalam Kidung Sunda ini tidak disebutkan siapa penulis aslinya dan dimana tempat ia menuliskannya, di Jawa atau di Bali ?
Tentang kematian Mahapatih Gajah Mada, uraian dalam Kidung Sunda ini bertentangan dengan uraian yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama khususnya dalam Pupuh LXXI yang menyebutkan "....tahun rasa(1286 Saka atau 1364 M) beliau mangkat, Baginda (Hayam Wuruk) gundah, terharu, bahkan putus asa...". Didalam pupuh sebelumnya disebutkan bahwa sebab-sebab meninggalnya Mahapatih Gajah Mada adalah karena sakit. Uraian sebagai berikut "....Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering...". Jadi kesimpulannya adalah :Mahapatih Gajah Mada meninggal karena sakit dan bukan karena dikejar-kejar oleh kedua orang paman Raja Hayam Wuruk setelah perang Bubat.
Dalam Kidung Sunda tersebut diceritakan bahwa Prabu Hayam Wuruk meninggal lebih dahulu dibandingkan Mahapatih Gajah Mada, padahal menurut uraian yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama yang meninggal lebih dahulu adalah Mahapatih Gajah Mada, hal ini dapat kita cermati dalam uraian yang menyebutkan ".... Baginda segera bermusyawarah dengan kedua rama serta Ibunda .....". Permusyawarahan ini dilakukan Prabu Hayam Wuruk untuk mencari pengganti Mahapatih Gajah Mada yang telah meninggal.
Dengan demikian Kidung Sunda ini harusnya dianggap hanya sebagai karya sastra biasa (karena tidak menyebutkan secara jelas pihak-pihak dari kerajaan Sunda), danbukan sebuah kronik sejarah yang akurat.
Tambahan :
Satu hal yang paling menarik  ialah bahwa dalam teks dibedakan pengertian antaraNusantara dan tanah Sunda. Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara,kecuali oleh patih Gajah Mada. Sedangkan yang disebut sebagai orang-orang Nusantara adalah: orang Palembang, orang Tumasik (Singapura), Madura, Bali, Koci (?), Wandan (Banda, Maluku Tengah), Tanjungpura (Kabupaten Ketapang) dan Sawakung (Pulau Sebuku) Hal ini juga sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit yang harus membayar upeti. Dengan demikian jelas bahwa tanahSunda bukan negara atau tanah taklukan Majapahit.
Kenyataan tersebut diperkuat oleh uraian yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama sebagai berikut :
Berkaitan dengan penyebaran agama Budha diuraikan sebagai berikut : "... Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata (ajaran Budha), dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata (Hayam Wuruk), dilarang menginjak tanah sebelah Barat pulau Jawa, karena penghuninya bukan penganut ajaran Budha .....". Tanah sebelah Barat pulau Jawa identik dengan kekuasaan Kerajaan Sunda.
Berkaitan dengan negara-negara asing yang memiliki hubungan dengan kerajaan Majapahit, diuraiakan  sebagai berikut : ".......Yawana ialah negara sahabat ....". Identifikasi Yawana adalahKerajaan Sunda (sepanjang tidak ada bukti-bukti empiris lainnya)
Itu sepenggal kisah dalam kitab kidung sunda dan Negarakertagama 
Niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijayayang menjadi pendiri kerajaan Majapahit dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal dianggap nama laki-laki.
Alasan umum yang dapat diterima adalah Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. 
Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.
Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Linggabuana berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.
Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit. Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.
Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.
Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.
Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda. Raja Sunda beserta segenap pejabat kerajaan Sunda dapat didatangkan di Majapahit dan binasa di lapangan Bubat.
Itu salah satu politik jahat Patih Gajah Mada pada perang Bubat.
Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukanbela pati, bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Tindakan ini mungkin diikuti oleh segenap perempuan-perempuan Sunda yang masih tersisa, baik bangsawan ataupun abdi. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatriya, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.
Tradisi menyebutkan bahwa Hayam Wuruk meratapi kematian Dyah Pitaloka. Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dariBali - yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipatiyang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalamKidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya. Raja Hayam Wuruk kemudian menikahi sepupunya sendiri, Paduka Sori.
Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Ia dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri. 
Peristiwa yang penuh kemalangan ini pun menandai mulai turunnya karier Gajah Mada, karena kemudian Hayam Wuruk menganugerahinya tanah perdikan di Madakaripura (kini Probolinggo). Meskipun tindakan ini nampak sebagai penganugerahan, tindakan ini dapat ditafsirkan sebagai anjuran halus agar Gajah Mada mulai mempertimbangkan untuk pensiun, karena tanah ini letaknya jauh dari ibu kota Majapahit sehingga Gajah Mada mulai mengundurkan diri dari politik kenegaraan istana Majapahit. Meskipun demikian, menurut Negarakertagama Gajah Mada masih disebutkan nama dan jabatannya, sehingga ditafsirkan Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai akhir hayatnya.
Tragedi ini merusak hubungan kenegaraan antar kedua negara dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian, hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala. 
Pangeran Niskalawastu Kancana — adik Putri Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil — menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana. Kebijakannya antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.
Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki "Prabu Wangi" (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.
Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama "Gajah Mada" atau "Majapahit". Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokohpahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.
Hal yang menarik antara lain, meskipunBali sering kali dianggap sebagai pewaris kebudayaan Majapahit, masyarakat Bali sepertinya cenderung berpihak kepada kerajaan Sunda dalam hal ini, seperti terbukti dalam naskah Bali Kidung Sunda. Penghormatan dan kekaguman pihak Bali atas tindakan keluarga kerajaan Sunda yang dengan gagah berani menghadapi kematian, sangat mungkin karena kesesuaiannya dengan ajaran Hindumengenai tata perilaku dan nilai-nilai kehormatan kasta ksatriya, bahwa kematian yang utama dan sempurna bagi seorang ksatriya adalah di ujung pedang di tengah medan laga. Nilai-nilai kepahlawanan dan keberanian ini mendapatkan sandingannya dalam kebudayaan Bali, yakni tradisi puputan, pertempuran hingga mati yang dilakukan kaum prianya, disusul ritual bunuh diri yang dilakukan kaum wanitanya. Mereka memilih mati mulia daripada menyerah, tetap hidup, tetapi menanggung malu, kehinaan dan kekalahan.
Perang Bubat adalah peristiwa yang menyiratkan kelicikan Patih Gajah Mada dan ambisi Sang Mahapatih yang ingin menguasai Nusantara.
Kita bisa bercermin dengan kisah ini. Banyak sekali di zaman sekarang orang yang ingin mencapai tujuan dengan berpolitik kotor dan menghalalkan segala cara.

Sabtu, 29 Februari 2020

Kisah Ki Ageng Pengging dan Misteri Akhir Kerajaan Majapahit





 
Kisah Ki Ageng Pengging dan Misteri Akhir Kerajaan MajapahitKehadiran Ki Ageng Pengging tak hanya muncul dalam lintas sejarah yang terlupakan di Kerajaan Majapahit. Sosoknya beserta para pengawal setia kerajaan begitu tersohor. Foto SINDOnews/Aan H
A+ A-
Kehadiran Ki Ageng Pengging tak hanya muncul dalam lintas sejarah yang terlupakan di Kerajaan Majapahit. Sosoknya beserta para pengawal setia kerajaan begitu tersohor. Tak banyak yang mengenal secara spesifik keberadaan Ki Ageng Pengging. Bersama para pengikutnya, mereka banyak memakai nama samaran yang bisa hadir di berbagai kawasan untuk bisa bergumul dengan banyak orang.

Dalam penelusuran di Babad Tanah Jawi, nama aslinya adalah Raden Kebo Kenanga. Kakaknya bernama Raden Kebo Kanigara dan adiknya bernama Kebo Amiluhur.

Ketiganya merupakan putra pasangan Andayaningrat atau Ki Ageng Pengging Sepuh yang juga disebut sebagai Sayyid Muhammad Kabungsuwan. Sementara ibunya bernama Retno Pembayun. Nama asli Andayaningrat adalah Jaka Sengara.


Dia diangkat menjadi Bupati Pengging karena berjasa dalam menemukan Retno Pembayun, salah satu putri dari Brawijaya, Raja Majapahit yang sempat diculik Menak Daliputih.

Kehadiran Ki Ageng Pengging tiba-tiba mencuat setelah Pemkot Surabaya melakukan renovasi pada kompleks makam Ki Ageng Pengging yang berada di Jalan Ngagel 87 Surabaya. Setidaknya ada 28 makam yang ada di dalam kompleks pemakaman yang memiliki luas sekitar 20x20 meter tersebut.

Camat Wonokromo Tomi Ardianto menuturkan, awalnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini beberapa kali melewati Jalan Ngagel dan melihat adanya kompleks pemakaman. Pihaknya mendapat instruksi untuk melakukan survei dan mencari informasi ke lokasi tersebut.

“Setelah kita survei bersama Lurah Ngagel dan bertemu dengan juru kunci makam, ternyata ada Makam Ki Ageng Pengging di situ,” kata Tomi, Senin (27/1/2020).

Pada kompleks pemakaman tersebut juga terdapat 27 makam lain. Jika ditotal, ada 28 makam, 16 sudah tercatat dan 12 belum diketahui identitasnya secara detail. Makam tersebut, diduga masih ada keturunan atau hubungan dengan Prabu Brawijaya V dan para pengawal Kerajaan Majapahit.

“Kondisinya waktu kita survei, pohonnya masih rimbun dan banyak dedaunan. Akhirnya kemudian kita lakukan kerja bakti bersama,” ucapnya.

Pemkot Surabaya pun langsung menggadakan rapat pertemuan dengan ahli waris atau pemilik persil bersama pakar sejarah.

Dari hasil pertemuan itu, pihak keluarga atau ahli waris menyambut baik rencana pemkot menjadikan kompleks pemakaman itu sebagai cagar budaya. Bahkan, ahli waris juga siap menghibahkan persil tersebut kepada Pemkot Surabaya.

“Pihak keluarga menyambut baik dan bersedia menghibahkan. Mereka juga menyetujui jika kompleks makam itu dijadikan cagar budaya. Ini sudah proses berjalan renovasi, jadi beberapa mulai diperbaiki, seperti atap dan akses jalan,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti mengatakan, untuk langkah awal ini kompleks pemakaman tersebut bakal ditetapkan dahulu sebagai cagar budaya. Pihaknya mengaku sudah bertemu dan berkoordinasi dengan ahli waris atau pemilik persil.

"Baru mau kita proses ke cagar budaya. Kami baru ketemu ahli warisnya, dan mereka setuju akan hal itu," kata Antiek.

Ia melanjutkan, sebelum kompleks pemakaman itu ditetapkan sebagai cagar budaya, Pemkot Surabaya membutuhkan berkas-berkas sebagai pendukung. Makanya, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan ahli waris dan pakar sejarah.

“Kalau dihibahkan kan kita butuh berkas-berkas pendukung untuk kemudian kita jadikan cagar budaya. Kita komunikasikan terus dengan pihak ahli waris,” ujarnya.

Setidaknya ada 16 makam yang sudah tercatat di dalam kompleks pemakaman tersebut. Salah satunya Ki Ageng Pengging, Mbah Endang, Mbah Wali Peking, Mbah Aji Rogo, Mbah Wongso, Mbah Prabu, Mbah Purbo, Mbah Suryo Kuninga, Mbah Boyo, Mbah Ronggo, Mbah Moh. Kojin, Mbah Saleh, Mbah Ibrahim, Mbah Sapu Jagat, Mbah Sigit dan Mbah Kafal Buntung. Sedangkan 12 makam lainnya, masih belum diketahui sejarahnya.

Mashuri, salah satu ahli waris yang juga sebagai juru kunci kompleks pemakaman tersebut selama tujuh tahun ini dipercaya untuk menjaga dan merawat kompleks pemakaman itu.

Menurutnya, dalam sejarah makam, nama-nama yang tertulis di batu nisan adalah nama kiasan. Jika dalam istilah Jawa Pewayangan, disebut ‘Samar’. Identitas sebenarnya sulit untuk diungkap dalam rentetan sejarah.

"Pengging adalah wilayah, nama sebenarnya Kebo Kenongo (Ayah dari Joko Tingkir). Sedangkan nama-nama di luar punden, adalah orang-orang pelindung kerajaan atau disebut juga prajurit,” kata Mashuri.

Sabtu, 22 Februari 2020

Prabu Angling Darmo


Kelahiran Prabu Angling Dharma
Sebelum Angling Dharma lahir, terdapat sebuah kerajaan yang dikenal dengan Kerajaan Hastina. Kerajaan Hastina saat itu dipimpin oleh Raja yang dikenal dengan Raja Parikesit. Semenjak Parikesit mempunyai beberapa orang putra, kehidupan disekitar kerajaan mulai memburuk karena terjadi persaingan perebutan tahta kerajaan. Raja Parikesit mewariskan tahtanya kepada putranya Yudayana. Ketika masa kepemimpinan Yudayana dimulai, kerajaan hampir mengalami kehancuran sehingga Raja Yudayana  sampai berani mengubah nama kerajaannya menjadi Kerajaan Yawasita. Perubahan nama kerajaan dilakukan bermaksud agar masa depan kerajaan yang dipimpin raja Yudayana semakin membaik. Namun kenyataannya masa depan kerajaan Yawasita tetap tidak jaya. Sehingga tahta Raja Yudayana dia berikan kepada saudaranya Gendrayana yang dulu pernah bersaing dengan Yudayana.
 
Pada masa pemerintahan Raja baru Gendrayana, lingkungan kerajaan semakin membaik dan mulai ada perubahan yang lebih sejahtera. Hal itu dibuktikan dengan tidak adanya rakyat yang mengalami kelaparan dan kemiskinan. Namun, masa kepemimpinan Gendrayana tidak terlalu lama karena dia menghukum adiknya sendiri yang bernama Sudarsana dengan dasar kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Mendengar berita itu, Batara Narada atau seorang pendeta dari kahyangan yang bijaksana datang ke kerajaan Yawastita untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukumannya, gendrayana dibuang ke hutan oleh Batara Narada. Sedangkan adiknya Sudarsana dijadikan sebagai pengganti Gendrayana. Gendrayana mengajak beberapa pengikut setianya untuk hidup bersamanya dan membuat kerajaan baru suatu hari nanti.
 
Di dalam hutan, Gendrayana berjuang keras bersama pengikut-pengikutnya membuat sebuah kerajaan yang akan berdiri kokoh. Setelah beberapa tahun, akhirnya sebuah kerajaan berhasil berdiri atas perjuangan keras yang dilakukan Gendrayana. Kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Mamenang oleh Gendrayana. Dan raja pertama yang menduduki pada masa itu adalah Gendrayana sendiri. Bahkan sampai Ratusan tahun kerajaan Mamenang berhasil memakmurkan rakyatnya dan selalu unggul dalam persaingan dengan kerajaan Yawasita. Setelah mengalami masa kejayaan, Gendrayana dikaruniai seorang putra yang diberi nama Jayabaya. Gendrayana mewariskan tahtanya kepada Jayabaya. Sedangkan Raja Sudarsana juga menyerahkan tahtanya kepada putranya yaitu Sariwahana. Kamudian Sariwahana mewariskan tahtanya kepada putranya Astradama karena Sariwahana tidak terlalu suka menjadi seorang raja. Pada masa pergantian tahta, kedua kerajaan ini sering terlibat dalam perang saudara. Perang saudara ini sampai bertahan hingga puluhan tahun dan tetap saja tidak selesai-selesai.
 
Akhirnya kedua kerajaan ini damai atas bantuan dari Hanoman yang telah bertapa lebih dari ratusan tahun. Hanoman melakukan tindakan yang berhasil mewujudkan perdamaian antara kerajaan Yawastina dengan kerajaan Mamenang dengan cara perkawinan salah satu anggota kerajaan. Yaitu Astradarma dinikahkan dengan Pramesti, Putra Jayabaya.
 
Setelah menikah, Pramesti bermimpi bertemu dengan Batara Wisnu. Batara Wisnu berkata bahwa dia akan dilahirkan di dunia melalui rahimnya sendiri. Dengan adanya kejadian mimpi tersebut, tiba-tiba perut Pramesti membuncit dan didalam rahimnya ada jabang bayi. Sontak Astradarma menuduh Pramesti selingkuh dengan orang lain. Sehingga Astradarma mengsusir istrinya untuk pulang kembali ke negerinya. Saat Jayabaya menemui putrinya berjalan menuju ke istananya dengan keadaan hamil dan lemas, Jayabaya sangat murka kepada Raja Astradarma. Kemudian Jayabaya mengutuk kerajaan Yawastina tenggelam oleh banjir bandang yang besar. Tak lama kutukan itu pun terjadi dan menimpa kerajaan Yawastina. Akhirnya Raja Astradarma dengan seluruh rakyatnya terhempas dan menghilang bersama istananya karena banjir yang melanda kerajaannya. Begitulah berakhirnya kerajaan Yawastina.
 
Setelah runtuhnya kerajaan Yawastina, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi Angling Dharma. Angling Dharma merupakan bayi titisan Dewa Wisnu yang memiliki kekuatan-kekuatan yang luar biasa. Angling Dharma dilahirkan bersamaan dengan kematian kakeknya Jayabaya. Setelah meninggalnya Jayabaya, tahta kerajaan Mamenang kemudian diserahkan kepada Jaya Amijaya (Saudara Pramesti).
 
Perjalanan Hidup Prabu Angling Dharma
Pada masa kecil sampai remaja Angling Dharma sering sekali membantu sesama temannya. Dia selalu meberantas kejahatan meskipun usia Angling Dharma masih sangat muda. Banyak sekali perampok-perampok yang berhasil dia kalahkan. Sehingga dia sangat disegani oleh banyak masyarakat yang telah dibantunya. Pada saat masuk usia remaja, Angling Dharma mulai melatih dan mengasah kemampuannya dalam dunia persilatan dan kekuatan dalam. Dengan dibekali keahlian sejak kecil, Angling Dharma sangat mudah mempelajari berbagai macam jurus yang diajarkan oleh gurunya, yaitu Begawan Maniksutra. Dia juga diajarkan gurunya untuk berburu yang baik dan tidak merusak alam. Hanya berburu dalam waktu 30 menit, Angling Dharma berhasil melumpuhkan seekor singa yang besar.
 
Angling Dharma sering sekali membunuh hewan setelah dia bisa berburu. Dalam sehari, Angling Dharma selalu membantai 3 ekor singa. Mengetahui hal tersebut, guru memarahi Angling Dharma sampai-sampai Angling Dharma tidak mau berlatih dengan gurunya sendiri. Selama lebih dari 2 tahun, Begawan Maniksutra berhasil menguasai berbagai macam ilmu tenaga dalam dan jurus-jurus yang sangat hebat. Suatu hari Begawan memergoki Angling Dharma sedang berburu dan membawa 2 ekor singa yang diikat tali oleh Angling Dharma. Begawan Maniksutra langsung menghalangi langkah kaki Angling Dharma yang penuh dengan keringat.
 
"Dharma! berhenti di situ!" teriak Begawan Maniksutra.
"Sedang apa kamu di sini? Menyingkirlah kamu dari jalanku," kata Angling Dharma.
"Dasar anak kurang ajar! lepaskan kedua singa itu. Atau kamu ..."
"Aku apa? Saya tidak takut denganmu walau aku pernah berguru kepadamu," Angling Dharma memotong pembicaraan Begawan.
"Memang semakin besar kamu semakin kurang ajar. Rasakan i..." tiba-tiba dipotong Angling Dharma.
"Rasakan apa? Saya tidak takut walaupun engkau hebat." Angling Dharma tertawa sambil melihat jurus yang dilakukan oleh Begawan Maniksutra.
"Mana ilmumu wahai guru?" Angling Dharma bertanya.
"Lihat sekelilingmu," kata Begawan. Angling Dharma terkejut melihat tali yang diikatkan ke leher singa tiba-tiba menghilang. Sontak Angling Dharma langsung berlari menghindar dari kejaran dua ekor singa yang telah diburunya. Setelah jauh berlari, akhirnya Angling Dharma berhasil lolos dari kejaran singa. 
Tiba-tiba Begawan Maniksutra berada di depan Angling Dharma. Angling Dharma langsung meminta kepada Begawan Maniksutra untuk menerima dirinya kembali sebagai muridnya. Selama Angling Dharma menjadi murid Begawan Maniksutra, dia diajarkan ilmu-ilmu yang dimiliki Begawan Maniksutra agar bisa meneruskan ilmu untuk para pemuda-pemuda yang berjuang mempertahankan negeri.
 
Akhirnya Angling Dharma berhasil menguasai seluruh ilmu dan jurus-jurus yang diajarkan oleh Begawan Maniksutra. Kemudian dengan tekat dan keberanian Angling Dharma, dia ingin membangun sebuah negeri baru karena mengetahui sejarah negeri kakeknya yang dulu sering berselisih dengan kerajaan lain. Angling Dharma ingin menciptrakan sebuah negeri yang damai dan makmur bagi rakyatnya.
 
Setelah Angling Dharma memasuki masa dewasa, Angling Dharma berniat membawa ibunya pindah ke negeri yang telah dibangunnya sendiri. Negeri tersebut diberi nama Malawapati. Di sana, Angling Dharma memimpin negerinya sendiri dan mengatur negerinya sendiri dengan memberi gelar Prabu Angling Dharma atau Prabu Ajidharma oleh dirinya sendiri. Setelah kerajaan Yawastina mengetahui kemakmuran yang terjadi pada kerajaan Malawapati, Jaya Amijaya sebagai raja Yawastina memberikan seperempat kekuasaannya kepada Angling Dharma untuk bermaksud memakmurkan rakyat barunya.
 
Walaupun dia sebagai raja, dia tetap tidak mau meninggalkan kebiasaannya untuk berburu. Angling Dharma senang sekali berburu pada malam hari karena pada malam hari hewan-hewan sangat mudah untuk diburu. Pada saat dia berburu, ia menemukan seorang gadis yang bersembunyi dari kejaran harimau. Lalu kemudian dia membawa gadis itu menuju ke tempat  yang aman dari jangkauan harimau. Selama perjalanan mereka saling berkenalan dan saling bercerita kesukaan mereka. Gadis itu ternyata bernama Setyawati yang ayahnya merupakan seorang pertapa sakti bernama Resi Maniksutra. Angling Dharma kemudian mengantarkannya pulang ke rumah. karena Angling Dharma merasa jatuh cinta kepada Setyawati dalam pandangan pertaa, Angling Dharma berniat untuk menjadikan Setyawati sebagai pendamping hidupnya.
 
Dan akhirnya Angling Dharma juga melamar Setyawati sebagai istrinya. Namun ada sedikit kendala saat akan mendapatkan Setyawati. Kakak Setyawati yang bernama Batikmadrim telah bersumpah bahwa barangsiapa yang ingin menikahi adiknya harus dapat mengalahkannya. Mengetahui sumpah tersebut, Angling Dharma memberanikan diri untuk melawan Batikmadrim demi mendapatkan Setyawati. Maka terjadilah pertandingan antara kakak Setyawati dengan Angling Dharma yang dimenangkan oleh Angling Dharma. Setelah itu, Setyawati menjadi permaisuri Angling Dharma dan sedangkan Batikmadrim diangkat sebagai patih di Kerajaan Malawapati.
 
Di lain hari, Angling Dharma memergoki istri Nagaraja yang bernama Nagagini sedang berselingkuh dengan seekor ular tampar (Nagaraja merupakan seorang guru yang tinggal di kerajaan Yawastina). Hal itu diketahui Angling Dharma saat Angling Dharma sedang berburu pada malam hari. Angling Dharma pun membunuh ular jantan tersebut demi kebaikan. Sedangkan Nagagini pulang dalam keadaan terluka. Nagagini kemudian menyusun sebuah laporan palsu kepada suaminya supaya membalas dendam kepada Angling Dharma yang telah membunuh temannya. Nagaraja pun menyusup ke dalam istana Malawapati. Namun saat menyusup ke dalam istana, Nagaraja menyaksikan Angling Dharma sedang membicarakan perselingkuhan Nagagini kepada Setyawati. Nagaraja pun sadar bahwa istrinya yang salah. Nagaraja pun muncul dan meminta maaf kepada Angling Dharma karena dia hampir saja membunuh Angling Dharma.
 
Pada saat itu juga Nagaraja mengakui bahwa dirinya akan meninggal karena dia telah memasuki masa moksa (Moksa adalah masa dimana arwah seseorang akan pergi dari raganya dan bereinkarnasi menuju ke manusia yang akan dilahirkan). Kemudian Nagaraja mewariskan ilmu kesaktiannya berupa Aji Gineng kepada Angling Dharma. Ilmu tersebut harus dijaga dengan baik dan penuh rahasia. Setelah mewariskan ilmu tersebut, Nagaraja pun meninggal. Jenazah Nagaraja kemudian dibawa ke rumah istrinya oleh Angling Dharma dan Angling Dharma menjelaskan kepada Nagagini apa yang sebenarnya terjadi sebelum suaminya meninggal.
 
Semenjak Angling Dharma mewarisi ilmu baru dari Nagaraja, dia dapat mengerti bahasa binatang. Pernah ia tertawa menyaksikan percakapan sepasang cicak. Hal itu membuat Setyawati tersinggung karena dirinya tidak pernah diperhatikan oleh suaminya semenjak dia memlihara banyak hewan dari hasil perburuannya. Angling Dharma menolak berterus terang karena terlanjur berjanji akan merahasiakan Aji Gineng. Hal itu membuat Setyawati bertambah marah. Setyawati pun memilih bunuh diri dalam api karena merasa dirinya tidak dihargai lagi oleh Angling Dharma. Angling Dharma berjanji lebih baik menemani Setyawati mati, daripada harus membocorkan rahasia ilmunya. Ketika upacara pembakaran diri digelar, Angling Dharma sempat mendengar percakapan sepasang kambing. Dari percakapan itu Angling Dharma sadar kalau keputusannya menemani Setyawati mati adalah keputusan yang tidak tepat dan bisa merugikan rakyat banyak.
 
Setelah kematian istrinya yang tragis, Angling Dharma menjalani hukuman buang untuk beberapa waktu sebagai penebus dosa. Hukuman itu meruupakan permintaan dari rakyatnya sendiri. Karena Angling Dharma telah mengingkari janji setia sehidup semati dengan istrinya sendiri. Walaupun Angling Dharma dihukum, dia tetap tidak lengser dari kursi rajanya. Kemudian Angling Dharma menitipkan istananya kepada Batikmadrim selama dia menjalani hukuman.
 
Dalam perjalanan, Angling Dharma bertemu tiga orang putri yang bernama Widata, Widati, dan Widaningsih. Ketiganya jatuh cinta kepada Angling Dharma dan menahannya untuk tidak pergi meninggalkan mereka.  Selama mereka saling mengenal, Angling Dharma meminta tolong kepada tiga putri tersebut untuk memberikan sebuah tempat tinggal untuknya. Akhirnya ketiga orang putri tersebut memberikan tempat tinggal untuk Angling Dharma. Namun semenjak tinggal bersama dengan tiga orang putri, Angling Dharma merasa ada yang ganjil saat putri-putri sering keluar pada malam hari. Kemudian Angling Dharma menyamar sebagai sosok burung gagak untuk menyelidiki kegiatan rahasia ketiga putri tersebut. Ternyata setiap malam mereka selalu berpesta makan daging manusia. Akhirnya kecurigaan Angling Dharma sudah terbukti. Tiga orang putri tadi merupakan penyihir yang suka memangsa manusia sebagai makanannya.
 
Saat Angling Dharma ketahuan sedang mengintip kegiatan mereka yang sedang makan daging manusia, Angling Dharma pun berselisih dengan mereka. Namun kekuatan Angling Dharma masih dapat dikalahkan oleh 3 orang penyihir. Akhirnya ketiga putri tadi mengutuk Angling Dharma menjadi seekor belibis putih. Belibis putih tersebut terbang sampai ke wilayah Kerajaan Bojanagara. Di sana, ia dipelihara seorang pemuda desa bernama Jaka Geduk. Jaka Gduk terkejut saat dia mengetahui belibis putih mampu berbucara kepadanya.
 
Pada saat itu, Darmawangsa yang sebagai raja Bojanagara sedang bingung menghadapi pengadilan yang di mana kasusnya merupakan seorang wanita bernama Bermani mempunyai dua orang suami yang berwujud sama dan bernama sama, yaitu Bermana. Kemudian pemuda desa tadi datang sambil membawa belibis putih untuk membantu raja dalam mengadili Bermani. Atas petunjuk belibis putih, Jaka Geduk berhasil membongkar Bermana palsu kembali ke wujud aslinya, yaitu Jin Wiratsangka. Atas keberhasilannya itu, Jaka Geduk diangkat sebagai hakim negara, sedangkan belibis putih diminta sebagai peliharaan putri raja Bojanagara yang bernama Ambarwati.
 
Keberhasilan Prabu Angling Dharma
Walaupun Angling Dharma telah berwujud belibis putih, dia sebenarnya bisa berubah ke wujud manusia pada malam hari saja. Namun Angling Dharma merahasiakan kelebihannya itu kepada siapapun kecuali Ambarawati. Setiap malam ia menemui Ambarawati dalam wujud manusia sehingga mereka berdua saling jatuh cinta. Mereka akhirnya menikah tanpa sepengetahuan orang tua Ambarawati. Dari perkawinan itu Ambarawati pun mengandung.
 
Darmawangsa heran dan bingung mendapati putrinya mengandung tanpa suami. Kebetulan saat dalam setiap kebingungan raja selalu ada jalan keluar dengan adanya orang ketiga. munculah seorang pertapa sakti yang bernama Resi Yogiswara mengaku siap menemukan ayah dari janin yang dikandung Ambarawati. Yogiswara kemudian mencari pelakunya. Resi mencurigai dengan adanya seekor belibis putih yang memiliki sebuah kalung yang sama seperti kalung Angling Dharma. Kemudian Resi Yogiswara menyerang belibis putih peliharaan Ambarawati. Setelah melalui pertarungan yang sengit, belibis putih kembali ke wujud semula yaitu Angling Dharma, sedangkan Yogiswara berubah menjadi Batikmadrim. Kedatangan Batikmadrim yang sebenarnya adalah untuk menjemput Angling Dharma yang sudah habis masa hukumannya.
 
Raja Darmawangsa justru menerima perlakuan Angling Dharma terhadap putrinya dan merestui hubungan mereka. Sehingga raja Darmawangsa melakukan acara pernikahan besar untuk menyambut Angling Dharma. Angling Dharma kemudian membawa Ambarawati pindah ke Malawapati. Dari perkawinan mereka, akhirnya lahir seorang putra yang bernama Anglingkusuma. Angling Kusuma akan menjadi penerus raja di kerajaan Bojanagara dan menggantikan kakeknya tersebut. Namun, selama Angling Kusuma menjadi raja, dia mempunyai musuh bernama Durgandini dan Sudawirat yang ingin menjatuhkan kerajaan Bojanagara.
 
Setelah kembalinya Angling Dharma ke Malawapati, kerajaan Angling Dharma berjaya dan mampu membantu putranya dalam memerangi musuh-musuhnya dan akhirnya mereka berhasil menaklukan musuh-musuhnya. Dan saat itulah sudawirat terbuka hatinya untuk mengabdi kepada Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Angling Dharma. Dan sedangkan Durgandini bersedia mengabdi pada kerajaan Bojanagara.
 

Gunung Marapi Dan Legenda Orang Bunian


Gugusan alam ranah Minang masih menyimpan gunung merapi aktif. Gunung Marapi adalah sebuah gunung vulkano dengan beberapa buah kawah aktif. Gunung ini tergolong gunung yang paling aktif di Pulau Sumatera.
Secara geografis Gunung Marapi terletak antara Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam dan Kotamadya Padang Panjang. Di sebelahnya terdapat Gunung Singgalang dengan telaga sebagai daya tariknya. Namun secara administrasi, gunung ini berada dalam kawasan Kabupaten Agam. Gunung Marapi memiliki ketinggian 2891,3 meter dari permukaan air laut. Untuk mencapai kaki Gunung Marapi cukup mudah, mengingat letaknya yang tidak jauh dari Kota Bukittinggi dan Kota Padang Panjang. Untuk menuju Gunung Marapi, jika Anda dari Kota Padang atau Bandar Udara Ketaping membutuhkan waktu kurang lebih 1.5 jam.
Objek Wisata Alam
Gunung Marapi merupakan salah satu gunung yang ada di ‎Sumatera Barat yang sering digunakan untuk pendakian. Mengingat gunung tersebut sudah memiliki jalur pendakian yang tetap. Meski demikian, Anda harus tetap waspada dan hati-hati ketika melakukan pendakian di Gunung Marapi. Selama dalam perjalanan pendakian, Anda akan disuguhi pemandangan yang hanya ada di gunung, yaitu bunga edelweis. Jika Anda beruntung, Anda dapat melihat Danau Singkarak ketika Anda sudah sampai di puncak gunung.
Terdapat beberapa jalur pendakian di jalur ini, namun titik start yang dapat Anda tempuh adalah dari Koto Baru. Sebelum melakukan pendakian, pastikan dahulu Anda telah menyiapkan bekal yang dibutuhkan seperti tenda, makanan, air, jaket dan perlengkapan lainnya. Dari pasar Koto Baru menuju pos pendakian, Anda harus memilih untuk memulai dengan jalan kaki atau angkutan pedesaan yang menuju ke pos pendakian. Pilihan berjalan kaki akan menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di pos pendakian.
Dari pos pendakian perjalanan dilanjutkan menuju Parak Batuang dengan melewati perkebunan penduduk. Di Parak Batuang Anda akan merasakan nikmatnya kesegaran udara Gunung Marapi dan mengisi botol minuman di sumber air yang terdapat di daerah ini. Dari parak batuang, membutuhkan waktu pendakian kira-kira 5 jam untuk mencapai puncak. Perjalanan diisi dengan pemandangan hutan tropis dan beberapa jalur pendakian yang cukup terjal. Setelah sampai di puncak, sebaiknya Anda memilih lokasi di cadas untuk tempat camp (berkemah). Untuk mencapai puncak sebaiknya dilakukan saat subuh, sehingga kita bisa menikmati pemandangan matahari terbit (sunrise) Gunung Marapi ini dan menikmati pemandangan yang mempesona di Gunung Marapi ini di pagi hari. Dari puncak Gunung Marapi ini mata Anda akan menyapu pemandangan Kota Bukittinggi, Gunung Singgalang, pemandangan Danau Singkarak yang berada di Kabupaten Solok.
Legenda Penduduk
Keberadaan Gunung Marapi sangat kental karena mempunyai nilai historis bagi masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Konon menurut sejarahnya, nenek moyang orang Minangkabau berasal dari lereng Gunung Marapi, hal ini ditandai dengan terdapatnya Nagari Pariangan di Kabupaten Tanah Datar. Nagari Pariangan merupakan cikal bakal dari lahirnya sistem pemerintahan masyarakat berbasis nagari di Sumatera Barat. Sebuah animo unik yang berkembang di masyarakat, bahwa jika seseorang belum pernah mendaki Gunung Marapi maka orang tersebut belum “lengkap” disebut sebagai orang Minangkabau.
Puncak Marapi dalam legenda Minang adalah awal dari lahirnya Ranah Minangkabau. Awal lahirnya Minang Darek (wilayah pegunungan Marapi) nenek moyang bangsa yang diyakini masih keturunan Iskandar Zulkarnaen dari Macedonia itu dikisahkan dalam Tambo terdampar saat berlayar di Puncak Marapi dan saat surut banjir, nampaklah di bawah kaki gunung Luhak nan Tigo (3 cekungan daratan) maka rombongan kapal yang terdampar itu mulai menuruni 3 wilayah itu, Luhak nan Tigo itu yang sekarang diketahui sebagai Wilayah Kabupaten Tanah Datar (kota Batusangkar dan Padangpanjang), yaitu Luhak nan Tuo, Wilayah Kabupaten Agam (Kota Bukittinggi) sebagai Luhak nan tengah, dan Kabupaten Limapuluhkota (Kota Payakumbuh) sebagai Luhak nan Bungsu. Legenda ini lah yang diimani penduduk setempat sebagai cikal bakal lahirnya masyarakat Minangkabau yang memiliki adat istiadat budaya yang khas dan unik. Sejatinya Minangkabau adalah masyarakat pegunungan dimana Gunung Marapi menjadi Simbol Budayanya diinfokan dari orang tua dahulu bahwa Rumah Gadang dalam kepercayaannya harus didirikan dengan menghadap ke Gunung Marapi.
Legenda Orang Bunian
Orang bunian dipercaya merupakan makhluh gaib yang digambarkan memiliki kemiripan dengan sosok manusia. Disebut jika orang bunian memiliki tangan, kaki, kepala dan orang-organ tubuh seperti manusia, namun makhluk yang satu ini tidak hidup di dimensi manusia. Banyak yang percaya jika makhluk legendaris ini menempati tempat-tempat terpencil seperti tengah hutan, bukit-bukit tinggi, perkuburan atau bangunan-bangunan tua yang telah ditinggalkan begitu saja dalam waktu yang lama.
Kisah legenda tentang orang bunian berasal dari kepercayaan adat istiadat masyarakat Minangkabau, Sumatera Selatan. Konon menurut legenda, orang bunian merupakan perwujudan sosok dewa, namun bagi masyarakat Minangkabau sosok dewa yang mereka maksud tidak seperti ajaran yang dianut dalam kepercayaan Hindu atau Budha. Mereka menyebut orang bunian sebagai makhluk halus yang mendiami hutan-hutan rimba, konon biasanya menurut legenda masyarakat setempat orang bunian akan menculik anak kecil di waktu-waktu tertentu. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, rang bunian biasanya akan menggoda anak keci dengan menyebarkan aroma masakan yang sangat lezat atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘samba dewa’.
Secara tak sadar, orang bunian telah menjadi legenda yang sangat terkenal bahkan sampai saat ini banyak peneliti dan para ilmuan dari mancanegara yang masih terus mencari penelitian untuk membuktikan keberadaan makhluk yang satu ini. Pasalnya, bagi mereka orang bunian sebenarnya tak lebih hanya merupakan makhluk langka yang hidup ditengah hutan belantara dan sangat menutup diri dari kehidupan manusia pada umumnya. Beberapa peneliti sempat menjelaskan jika legenda ini tidak hanya sekedar cerita, pasalnya saat melakukan penelitian mereka berhasil menemukan bukti-bukti tentang keberadaannya. Seperti jejak kaki hingga sebuah rekaman video yang konon merupakan rekaman bukti keberadaan kisah legendaris ini. Dari situ mereka pun mulai membentuk sebuah skema tentang perwujudan ssok makhluk yang satu ini. Menurut salah satu sumber, hasil penelitian menggambarkan jika orang bunian adalah sebuah makhluk hasil evolusi kera. Para peneiti mengatakan jika makhluk yang satu ini berjalan dengan kedua kakinya seperti manusia, bahkan mereka pun berjalan di atas tanah tapi dengan ukuran yang jauh lebih kecil dan lebih pendek dari manusia.
Berbicara tentang orang bunian maka sisi mistis seolah tidak bisa dipisahkan dari legenda ini. Banyak yang percaya jika makhluk ini merupakan makhuk halus sebangsa jin yang konon memiliki kekuatan supranatural yang sangat dahsyat, dan menurut legendanya makhluk ini tidak akan pernah dilihat dengan mata biasa. Konon orang bunian hanya akan menampakkan wujudnya kepada orang-orang yang ia inginkan. Menurut kepercayaan banyak kalangan orang bunian tidak hanya terdapat di daerah Minangkabau saja, konon dari kisah legendanya hampir setiap daerah khususnya daerah perbukitan di huni oleh orang bunian. Konon menurut legenda dari dunia mistik orang bunian pun punya kehidupan mereka masing-masing seperti kehidupan manusia yaitu beranak pinak dan juga memiliki sistem pemerintahan mereka tersendiri.
Benar tidaknya tentang legenda makhluk ini, salah seorang yang nampaknya “pakar” dunia gaib asal negeri jiran sempat membuat pengumuman yang sangat mengejutkan. Ia mengatakan bahwa tragedy hilangnya Malaysia Airlines disebabkan karena ulah orang bunian yang membawa semua penumpang termasuk pesawat masuk ke dimensi lain.
Dalam kepercayaan beberapa komunitas masyarakat -khususnya di Sumatera dan Semenanjung Melayu-, ada yang disebut dengan istilah orang bunian.
Bunian secara linguistik berarti 'yang tersembunyi'. Jadi, orang bunian artinya adalah orang yang tubuh kasarnya tersembunyi, yang ada hanyalah tubuh halus. Oleh karena itu, sebagian masyarakat menyebutnya sebagai 'tubuh halus'.
Orang bunian dipercaya tinggal di tempat-tempat seram seperti hutan belantara, gua yang jauh dari kampung, puncak gunung dan lain sebagainya.
Bila ada orang yang pergi ke hutan mencari kayu, lalu ia tersesat dan tidak pulang-pulang, maka orang menyebutnya 'telah dilarikan orang bunian'.
Ada yang yang menduga bahwa istilah 'orang bunian' merupakan terjemahan dari Bahasa Arab dari kata Jinn (الجن), yang mana al-jinn secara letterlijk berarti 'sesuatu yang tersembunyi' atau 'sesuatu yang tak tampak oleh kasat mata'.
Jika memang demikian, maka kepercayaan terhadap adanya orang bunian sebenarnya tidak masalah, sebab keberadaan Jin pun memang diakui sebagai suatu makhluk yang eksis dan termaktub dalam kitab suci Al-Qur'an maupun dalam keterangan Sunnah.
Bahkan di dalam al-Qur'an sendiri terdapat sebuah surah yang namanya adalah surah al-Jinn, yang mana dalam surah tersebut diceritakan tentang kawanan jin yang mendengar bacaan al-Qur'an. Dalam ayat-ayat lain disebutkan bahwa hukum Tuhan berlaku atas jin dan manusia.
Hanya saja kepercayaan-kepercayaan terhadap bunian ini banyak dibumbui oleh kepercayaan mistis sehingga melenceng jauh dari aqidah yang benar, misalnya percaya akan kesaktian orang bunian atau juga mememinta pertolongan dengan membuat persembahan melalui bomoh dan dukun-dukun.
Berikut beberapa hal yang terkait dengan orang bunian:
Ilmu Bunian
Salah satu kepercayaan yang erat kaitannya dengan orang bunian adalah adanya sesuatu yang disebut dengan 'ilmu bunian'. Disebut ilmu bunian karena barangkali kemampuan ini didapat dari orang bunian.
Konon dikatakan bahwa ilmu bunian merupakan sebuah ilmu yang sangat rahasia. Ilmu yang satu ini dikatakan hanya dimiliki oleh beberapa orang saja.
Konon katanya, dengan adanya ilmu yang satu ini maka akan mampu mempengaruhi alam bawah sadar orang yang ada di sekitarnya dengan mudah. Ilmu yang satu ini juga disebut sebagai ilmu pekasih rotan.
Ilmu bunian biasanya digunakan untuk pekasih buat lawan jenis. Konon pula orang yang sudah hebat dalam memiliki ilmu tersebut akan dikasihi oleh banyak orang, termasuk lawan jenis. Dikatakan juga bahwa ilmu bunian tersebut akan mampu untuk membuat seseorang lebih mudah dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang lain.
Bahkan ada sebuah cerita dimana seorang pemilik ilmu bunian mampu untuk memiliki istri sebanyak 25 orang. Istri yang sangat banyak tersebut tidak pernah terjerat konflik sama sekali.
Ilmu seperti ini tentu sudah tidak ada bedanya dengan sihir yang terlarang dalam Islam.
Bukit Bunian
Di beberapa tempat juga dipercaya sebagai tempat tinggal orang Bunian, misalnya ada suatu bukit yang dipercaya sebagai bukit bunian, sehingga orang kampung tidak ada yang  berani datang ke sana. Konon katanya kalau mau melewati tempat itu harus minta izin terlebih dahulu. Atau pula ada yang nekat karena ingin bertapa dan mencari kesaktian.
Lantas bagaimana menyikapi semua ini?
Sebagai muslim, kita wajib percaya pada keberadaan yang ghaib, termasuk jin. Tapi hal itu cukup sampai pada tahap kepercayaan, tidak lebih. Seorang mukmin tidak dibenarkan meminta pertolongan kepada selain Allah Swt.
Lebih dari itu, seorang mukmin harus mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah atas izin Allah Swt, karena itu tidak ada yang perlu ditakuti kecuali hanya Allah Swt.
Wallohu A'lam

Dari Banjar Petambakan Menuju Banjar Negara


Dalam riwayat berdirinya Kabupaten Banjarnegara disebutkan bahwa seorang tokoh masyarakat yang bernama Kyai Maliu sangat tertarik akan keindahan alam di sekitar Kali Merawu sebelah selatan jembatan Clangap (sekarang). Keindahan tersebut antara lain karena tanahnya berundak, berbanjar sepanjang kali.
Sejak saat itu, Kyai Maliu kemudian mendirikan pondok/rumah sebagai tempat tinggalnya yang baru. Setelah Kyai Maliu tinggal di tempat barunya tersebut, dalam waktu singkat disusul pula dengan berdirinya rumah-rumah penduduk yang lain disekitar pondok Kyai Maliu sehingga kemudian membentuk suatu perkampungan. Perkampungan tersebut terus berkembang waktu demi waktu yang akhirnya menjadi sebuah desa.‎
Desa baru tersebut kemudian dinamakan“BANJAR” sesuai dengan daerahnya yang berupa sawah yang berpetak-petak. Atas dasar musyawarah penduduk desa baru tersebut Kyai Maliu diangkat menjadi Pertinggi (Kepala Desa), sehingga kemudian dikenal dengan nama “Kyai Ageng Maliu Pertinggi Banjar”.
Keramaian dan kemajuan desa Banjar dibawah kepemimpinan Kyai Ageng Maliu semakin pesat tatkala kedatangan Kanjeng Pangeran Giri Wasiat, Panembahan Giri Pit dan Nyai Sekati yang sedang mengembara dalam rangka syiar agama Islam. Ketiganya merupakan putra Sunan Giri Prapen raja di Giri Gajah Gresik yang bergelar Prabu Satmoko.
Sejak kedatangan Pangeran Giri Pit, Desa Banjar menjadi pusat pengembangan agama Islam. Kyai Ageng Maliu semakin bertambah kemampuannya dalam hal agama Islam dan dalam memimpin Desa Banjar. Karena kepemimpinannya itulah Desa Banjar semakin berkembang dan semakin ramai.
Desa Banjar yang didirikan oleh Kyai Ageng Maliu inilah pada akhirnya menjadi cikal bakal Kabupaten Banjarnegara. Makam Kyai Ageng Maliu di Dusun  Pekuncen desa dan  kec Banjar mangu ‎Kondisi makam sendiri sangat memprihatinkan. Cungkup makam yang terbuat dari kayu sudah mulai lapuk termakan usia, bahkan beberapa sudah dimakan serangga. Pagar keliling makam pun beberapa sudah roboh. Tanaman-tanaman ilalang pun tumbuh tak beraturan tidak terawat.
Awal Pemerintahan Kabupaten Banjar Petambakan‎
Setelah wafatnya Adipati Wargo Hutomo I (Adipati Wirasaba) dalam perjalanan pulang setelah menghadap Sultan Hadiwijoyo (Sultan Pajang) akibat adanya kesalahpahaman Utusan (Gandek) dari Kerajaan Pajang dalam mengartikan perintah Sultan Hadiwijoyo yang diperkuat dengan fitnah Demang Toyareka (Adik Adipati Wargo Hutomo), pucuk pimpinan Kabupaten Wirasaba mengalami kekosongan. Untuk selanjutnya Kabupaten Wirasaba dipimpin oleh Patih yang telah mewakili Adipati sejak menghadap Sultan.
Para Putra Adipati tidak ada yang berani menggantikan kedudukan ayahnya sebelum mendapat ijin dari Kanjeng Sultan Hadiwijoyo di Pajang.
Menyadari kesalahannya yang menyebabkan wafatnya Adipati Wargo Hutomo I, Sultan Hadiwijoyo mengutus Tumenggung Tambakbaya mengirimkan surat kepada Keluarga Adipati Wargo Hutomo I di Wirasaba yang isinya mengharapkan kehadiran salah satu putra Adipati Wargo Hutomo I untuk menghadap Sultan. Namun demikian tidak satupun dari putra Adipati Wargo Hutomo I yang bersedia menghadap Kanjeng Sultan Hadi Wijoyo. Hal ini dikarenakan disamping duka akibat peristiwa terbunuhnya ayahandanya belum sepenuhnya hilang, muncul pula perasaan khawatir bilamana ternyata mendapat perlakuan serupa.
Akhirnya Tumenggung Tambakbaya meminta Joko Kaiman (menantu Adipati) untuk memenuhi panggilan Sultan menghadap ke Pajang. Atas persetujuan Saudara-saudara iparnya, berangkatlah Joko Kaiman menghadap Sultan Hadiwijoyo di Pajang.
Sesampainya di Pajang, Sultan menjelaskan duduk permasalahan hingga Adipati Wargo Hutomo terbunuh dan menyampaikan permohonan maaf kepada semua putra Adipati dan masyarakat Wirasaba. Dalam kesempatan itu pula, Sultan Hadiwijoyo mengangkat Joko Kaiman menjadi Bupati Wirasaba menggantikan Adipati Wargo Hutomo I, yang kemudian bergelar Adipati Wargo Hutomo II.
Menyadari statusnya hanya sebagai putra menantu, maka demi menjaga keutuhan keluarga, setelah diangkat menjadi Bupati, Joko Kaiman (Wargo Hutomo II) mengeluarkan kebijakan yaitu membagi Kabupaten Wirasaba menjadi 4 (empat) Kabupaten Kecil untuk saudara-saudara iparnya, yaitu :
Kabupaten Wirasaba diserahkan kepada Kyai Ngabei Wargo Wijoyo ;
Kabupaten Merden, deserahkan kepada Kyai Ngabei Wiro Kusumo ;
Kabupaten Banjar Petambakan kepada Kyai Ngabei Wiroyudo;
Kabupaten Banyumas di Daerah Kejawar dipimpin sendiri oleh Wargo Hutomo II.
Kebijakan ini disetujui semua saudara iparnya dan mendapatkan ijin dari Sultan Pajang. Karena kebijakannya membagi Daerah Kabupaten Wirasaba menjadi 4 (empat) Kabupaten tersebut, Kyai Adipati Wargo Hutomo II mendapat julukan Adipati Mrapat.
Peristiwa tersebut merupakan awal adanya pemerintahan Kabupaten Banjar Petambakan, cikal bakal Kabupaten Banjarnegara
Kabupaten Banjar Petambakan
Kyai Ngabehi Wiroyudo merupakan Bupati Banjar Petambakan pertama yang memerintah pada ± Tahun 1582 (melihat pendirian Pendopo Kabupaten Banyumas di Kejawar oleh Wargo Hutomo II, yang merupakan salah satu pecahan dari Kabupaten Wirasaba tercatat tahun 1582).
Namun siapa pengganti Kyai Ngabei Wiroyudo sampai R. Ngabehi Banyakwide diangkat sebagai Kliwon Banyumas yang bermukim di Banjar Petambakan tidak diketahui, karena tidak ada/belum ditemukan sumber/ catatan tertulis. Ada kemungkinan Kabupaten Banjar Petambakan dibawah Kyai Ngabei Wiroyudo tidak berkembang (tidak lestari) seperti halnya Kabupaten Merden yang diperintah R. Ngabei Wargawijaya dan Kabupaten Wirasaba yang diperintah oleh R. Ngabei Wirakusuma. Tidak demikian halnya halnya dengan Kabupaten Banyumas (Daerah Kejawar) dibawah pemerintahan R. Adipati Wargo Hutomo II yang dapat bertahan dan terus berkembang.
R. Banyakwide adalah putra R. Tumenggung Mertoyudo (Bupati Banyumas ke 4). Dari sini terlihat bahwa selama 3 (tiga) periode kepemimpinan Bupati di Kabupaten Banyumas (setelah Wargo Hutomo II) sampai dengan Bupati ke 4 (R.T. Mertoyudo), Kabupaten Banjar Petambakan tidak tercatat ada yang memerintah.
Karena cukup lama tidak ada yang memerintah, maka setelah diangkatnya R. Banyakwide sebagai Kliwon Banyumas tetapi bermukim di Banjar Petambakan, ada yang menyebut Banyakwide adalah Bupati Banjar Petambakan Pertama setelah Pemerintahan Ngabehi Wiroyudo.
R. Banyak Wide mempunyai 4 (empat) putera, yaitu:
Kyai Ngabei Mangunyudo;
R. Kenthol Kertoyudo;
R. Bagus Brata;
Mas Ajeng Basiah.
Sepeninggal R. Banyakwide Kabupaten Banjar Petambakan diperintah oleh R. Ngabei Mangunyudo I yang kemudian dikenal dengan julukan Hadipati Mangunyudo Sedo Loji (Benteng), karena beliau gugur di loji saat perang melawan Belanda di Kartosuro.
Kebenciannya terhadap Belanda ditunjukkan sewaktu ada geger perang Pracino (pecinan) yaitu pemberontakan oleh bangsa Tionghoa kepada VOC saat Mataram dipimpin Paku Buwono II.
R. Ngabehi Mangunyudo I sebagai Bupati manca minta ijin untuk menghancurkan Loji VOC di Kartasura. Paku Buwono II mengijinkanya dengan satu permintaan agar R. Ng. Mangunyudo tidak membunuh pasangan suami istri orang belanda yang berada di loji paling atas.
Akhirnya perang sengitpun terjadi antara pajurit Mangunyudo I dengan pasukan VOC (tahun 1743). Melihat prajuritnya banyak yang tewas, Adipati Mangunyudo I sangat marah, seluruh penghuni loji dibunuhnya, bahkan beliau lupa pesan Sri Susuhunan Pakubuwono II. Melihat masih ada orang Belanda yang masih hidup di bagian paling atas Loji, R. Mangunyudo I mengejarnya dan berusaha membunuh pasangan suami istri orang Belanda, yang sebenarnya adalah Pakubuwono II dan Permaisuri yang sedang menyamar. Merasa terancam jiwanya, Pakubuwono II akhirnya membunuh Adipati Mangunyudo I yang sedang kalap di Loji VOC tersebut. Sebab itulah kemudian Adipati Mangunyudo I dikenal dengan sebutan Adipati Mangunyudo Sedo Loji.
Kabupaten Banjar Watu Lembu
a. Berdasarkan sumber/buku “Inti Silsilah dan Sejarah Banyumas”
Setelah Adipati Mangunyudo I wafat, disebutkan bahwa pengganti Bupati Banjar Petambakan adalah puteranya yang bergelar R. Ngabei Mangunyudo II, yang dikenal dengan R. Ngabei Mangunyudo Sedo Mukti.
Di era kepemimpinannya, Kabupaten dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu dengan nama Kabupaten Banjar Watu Lembu (Banjar Selo Lembu).
R. Ngabei Mangunyudo II merupakan Bupati Banjar Watu Lembu Pertama, yang kemudian digantikan oleh puteranya, bergelar Kyai R. Ngabei Mangunyudo III yang kemudian berganti nama menjadi Kyai R. Ngabei Mangunbroto, Bupati Anom Banjar Selolembu. Masih dari sumber yang sama, R. Ngabei Mangunbroto wafat karena bunuh diri.
Penggantinya adalah R.T. Mangunsubroto yang memerintah Kabupaten Banjar Watulembu sampai tahun 1931.
Karena Kabupaten Banjar Watulembu sangat antipati terhadap Belanda, maka setelah perang Diponegoro dimana kemenangan dipihak Belanda, Kabupaten Banjar Watulembu diturunkan statusnya menjadi Distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabei Mangunsubroto dan R. Ng. Ranudirejo.
Berdasarkan sumber “Register Sarasilah Keturunan R. Ngabei Banyakwide dan Register Catatan Legenda Riwayat Kanjeng Sunan Giri Wasiyat, Kyai Panembahan Giri Pit, Nyai Ageng Sekati”
Dalam sumber tersebut disebutkan bahwa yang menggantikan Mangunyudo I adalah R. Ngabehi Kenthol Kertoyudo yang kemudian bergelar R. Ngabei Mangunyudo II. Dalam perang Diponegoro lebih dikenal dengan R. Tumenggung Kertonegoro III atau Mangunyudo Mukti.
Pada masa pemerintahannya, Kabupaten dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu dan kemudian dinamakan Kabupaten “Banjar Watulembu”.
Sikap Adipati Mangunyudo II yang sangat anti terhadap Belanda dan bahkan turut memperkuat pasukan Diponegoro dalam perang melawan Belanda (dimana perang tersebut berakhir dengan kemenangan di pihak Belanda), berakibat R. Ngabei Mangunyudo II dipecat sebagai Bupati Banjar Watulembu, dan pada saat itu pula  status Kabupaten Banjar Watulembu diturunkan menjadi Distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabei Mangun Brotodan R. Ngabei Ranudirejo.
Terlepas sumber mana yang benar, para pemimpin/ Bupati Banjar mulai Mangunyudo I sampai yang terakhir Mangunsubroto atau Mangunyudo II, semuanya anti penjajah Belanda.
Kabupaten Banjarnegara
Siapa sebenarnya Tumenggung Dipayuda
Dalam masa pemerintahan raja-raja tanahjawa tersebutlah kerajaan Majapahit dengan penguasanya Prabu Brawijaya. Prabu Brawijaya menurut naskah babad disebutkan adalah raja terakhir penguasa kerajaan Majapahit.Dikisahkan bahwa pada suatu hari putri Prabu Brawijaya yang bernama Retno Ayu Pambayun diculik oleh Menak Dali Putih raja kerajaan Blambangan putra Menak Jingga.Pada masa itu tersebutlah seorang pahlawan bernama Jaka Senggara yang berhasil merebut dan membebaskan Retno Ayu Pambayun dari tangan Menak Dali Putih sehingga dalam pertempuran itu Menak Dali Putih menemui ajalnya.
Atas jasa dari Jaka Senggara tersebut kemudian Prabu Brawijaya mengangkat Jaka Senggara menjadi bupati Pengging dengan gelar kebesaran Handayaningrat.Selain dianugerahi menjadi bupati Pengging,Jaka Senggara dinikahkan dengan Retno Ayu Pambayun.
Kerajaan Majapahit dimasa-masa akhir kehancurannya terjadi pemberontakan dimana-mana.Pemberontakan-pemberontakan itu didasari keinginan merebut tahta kerajaan.Handayaningrat gugur dimedan laga saat perang antara Majapahit dengan Demak Bintoro.Disebutkan bahwa Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh)tertusuk keris Sunan Ngudung hingga menemui ajalnya.Tahta kerajaan Majapahit berikut benda-benda pusaka kerajaan diboyong ke Demak.Kemudian Raden Patah atas prakarsa para wali songo mendirikan kerajaan Demak.
Setelah terbunuhnya Handayaningrat maka pemerintahan Pengging dipegang oleh anaknya yang bernama Ki Kebo Kenanga dengan gelar Ki Ageng Pengging.Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan kerajaan Kasultanan Demak.Ketika Kasultanan Demak terjadi perang pengaruh antara para wali songo pendukung kerajaan Kasultanan Demak dengan Syeh Siti Jenar,pertentangan itu semakin meruncing sehingga terpaksa diselesaikan dengan pertumpahan darah.Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap kekuasaan Kasultanan Demak.
Ki Ageng Pengging mempunyai seorang anak yang bernama Mas Karebet.Ketika dilahirkan ayahnya Ki Ageng Pengging sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir.Setelah selesai ndalang Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.
Setelah kematian Ki Ageng Pengging,Nyai Ageng Pengging sering sakit-sakitan dan tidak lama kemudian meninggal dunia.Sejak saat itu Mas Karebet diambil sebagai anak asuh oleh Nyai Ageng Tingkir.
Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar olahkanuragan dan bertapa sehingga mendapat sebutan Jaka Tingkir.Jaka Tingkir diambil murid oleh Sunan Kalijaga dan pernah juga berguru kepada Ki Ageng Selo.Ditempat Ki Ageng Selo itu Jaka Tingkir dipersaudarakan dengan cucu Ki Ageng Selo yaitu Ki Juru Martani,Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi.
Pada masa Kasultanan Demak yang dipimpin oleh Sultan Trenggono,Jaka Tingkir banyak berjasa.Sultan Trenggono menjadikan Jaka Tingkir bupati Pajang dan menikahkannya juga dengan salah satu putrinya yang bernama Ratu Mas Cempaka.Jaka Tingkir dianugerahi gelar Hadiwijaya.
Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik takhta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsangbupati Jipang. Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuhHadiwijaya namun gagal.
Dengan dukungan Ratu Kalinyamat(bupati Jepara putri Sultan Trenggana),Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Ia pun menjadi pewaris tahta Kesultanan Demak, yang ibu kotanya dipindah ke Pajang.Hadiwijaya atau Jaka Tingkir kemudian mengganti nama kerajaan menjadi kerajaan Kasultanan Pajang(tahun 1549).
Pada suatu saat, ketika Kyai Tepusrumput sedang bertapa di bawah pohon Jatiwangi, Ia di datangi oleh seorang laki-laki tua bernama Kyai Kantaraga. Kyai Kantaraga memerintahkan agar Ia bertapa di bawah pohon Pule selama 40 hari.Setelah perintah itu dilaksanakan, yaitu bertapa selama 40 hari,Ia mendapatkan sebentuk cincin emas, yang ternyata bernama socaludira. Cincin itu, ternyata adalah milik Sultan pajang(Sultan Hadiwijaya;Jaka Tingkir) yang hilang. Karena mengetahui bahwa cincin socaludira adalah miliki sultan Pajang maka Ia mengembalikannya. Saking girangnya Sultan Pajang menemukan kembali cincin kesayangannya itu, maka Sultan Pajang memberikan hadiah kepada Kyai Tepusrumput seorang putri triman yang sedang hamil 4 bulan.Setelah menunggu cukup lama, akhirnya putri triman itu melahirkan jabang bayi laki-laki, yang kemudian Ia serahkan kembali kepada Sultan pajang. Akan tetapi, oleh Sultan Pajang bayi tersebut diserahkan kembali kepada kyai Tepusrumput, yang kemudian bergelar Kyai Ageng Ore-ore.Setelah tumbuh dewasa, anak dari putri triman atau anak tiri dari Kyai Tepusrumput menggantikan kedudukan Kyai Tepusrumput dengan gelar Kyai Adipati Anyakrapati atau Adipati Onje II.
Adipati Anyakrapati atau Adipati Onje II memperistri dua orang yang berasal dari Cipaku dan Pasir Luhur. Dari istri yang berasal dari Cipaku, Ia di karuniai 2 orang putra, yakni; Raden Cakra Kusuma dan Raden Mangunjaya. Selanjutnya dengan istri keduanya yang berasal dari Pasir Luhur, Adipati Anyakrapati atau Adipati Onje II di karuniai 2 putera yang semunya adalah perempuan.Karena selalu terjadi percekcokan dalam keluarga akhirnya Adipati Onje membunuh kedua istrinya. Selanjutnya Ia kawin dengan anak perempuan Adipati Arenan yang bernama Nyai Pingen.Dari perkawinan tersebut, Adipati Onje II, dikaruniai seorang‎ putra bernama Kyai Arsa Kusuma yang kemudian berganti nama menjadi Kyai Arsantaka.
Setelah dewasa, Kyai Arsantaka kawin dengan 2 orang putri.Istri pertama bernama Nyai Merden dan istri kedua bernama Nyai Kedung Lumbu. Dari istri pertama, Kyai Arsantaka di karuniai 5 orang putera, yakni; pertama Nyai Arsamenggala, kedua Kyai Dipayuda,ketiga Kyai Arsayuda, yang kemudian menjadi menantu Tumenggung Yudanegara II. Putera keempat bernama Mas Ranamenggala dan kelima adalah Nyai Pancaprana.Dengan istri kedua, Kyai Arsantaka di karuniai 1 putera yaitu Mas Candrawijaya, yang di kemudian hari menjadi Patih Purbalingga.
Diceritakan bahwa kyai Arsantaka meninggalkan Kadipaten Onje untuk berkelana ke arah timur dan sesampainya di desa Masaran (Sekarang di Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara) diambil anak angkat oleh Kyai Wanakusuma yang masih anak keturunan Kyai Ageng Giring dari Mataram.
Pada tahun 1740 – 1760, Kyai Arsantaka menjadi demang di Kademangan Pagendolan (sekarang termasuk wilayah desa Masaran), suatu wilayah yang masih berada dibawah pemerintahan Karanglewas (sekarang termasuk kecamatan Kutasari, Purbalingga) yang dipimpin oleh R. Tumenggung Dipayuda I.
Kyai Arsantaka karena banyak menyumbang jasa maka dinobatkan menjadi Raden Tumenggung Dipayuda II.Banyak riwayat yang menceritakan tentang kepahlawanan dari Kyai Arsantaka antara lain ketika terjadi perang Jenar, yang merupakan bagian dari perang Mangkubumen, yakni sebuah peperangan antara Pangeran Mangkubumi dengan kakaknya Paku Buwono II dikarenakan Pangeran mangkubumi tidak puas terhadap sikap kakanya yang lemah terhadap kompeni Belanda. Dalam perang jenar ini, Kyai Arsantaka berada didalam pasukan kadipaten Banyumas yang membela Paku Buwono.
Dikarenakan jasa dari Kyai Arsantaka kepada Kadipaten Banyumas pada perang Jenar, maka Adipati banyumas R. Tumenggung Yudanegara mengangkat putra Kyai Arsantaka yang bernama Kyai Arsayuda menjadi menantu. Seiring dengan berjalannya waktu, maka putra Kyai Arsantaka yakni Kyai Arsayuda menjadi Tumenggung Karangwelas dan bergelar Raden Tumenggung Dipayuda III.
Masa masa pemerintahan Kyai Arsayuda dan atas saran dari ayahnya yakni Kyai Arsantaka yang bertindak sebagai penasihat, maka pusat pemerintahan dipindah dari Karanglewas ke desa Purbalingga,dikemudian hari menjadi Kabupaten Purbalingga.
Anak kedua Kyai Arsantaka dari Nyai Merden yang bernama Kyai Dipayuda berkelana kewilayah Banjar Pertambakan (sekarang Banjarmangu) yang dikuasai Kyai Ngabei Wirayuda.Beberapa waktu kemudian Kyai Ngabei Wirayuda meninggal dunia sehingga wilayah Banjar tidak ada yang menguasai.Konon atas kekosongan kekuasaan ini maka Kyai Dipayuda diangkat menjadi Raden Tumenggung Dipayuda IV.
Raden Tumenggung Dipayuda IV banyak berjasa ketika perang Pangeran Diponegoro.Hal ini diceritakan dalam babad Pupuh:
“Tumuta lampah kawula, sri naréndra ngandika iya becik, tinimbalan praptèng ngayun, sang nata angandika, Dipayuda milua amapag musuh, tur sembah matur sandika”‎
Artinya:” Mengikuti saran, sang raja berkata,”Ya, kalau begitu panggillah Dipayuda menghadap saya”. Kepada Dipayuda raja memerintahkan untuk mencegat musuh dan di jawab bahwa dia siap”.
Sehingga Sri Susuhunan Paku Buwono VII mengusulkan agar Raden Tumenggung Dipayuda IV diangkat menjadi bupati Banjar.berdasarkan Resolutie Governeor General Buitenzorg tanggal 22 agustus 1831 nomor I.Usul tersebut disetujui oleh Gubernur Jenderal.Peristiwa ini kemudian lebih dikenal dengan Banjar Watu Lembu.
Persoalan meluapnya Sungai Serayu menjadi kendala yang menyulitkan komunikasi dengan Kasunanan Surakarta. Kesulitan ini menjadi sangat dirasakan menjadi beban bagi bupati ketika beliau harus menghadiri Pasewakan Agung pada saat-saat tertentu di Kasultanan Surakarta. Untuk mengatasi masalah ini diputuskan untuk memindahkan ibukota kabupaten ke selatan Sungai Serayu. 
Daerah Banjar (sekarang Kota Banjarnegara) menjadi pilihan untuk ditetapkan sebagai ibukota yang baru. Kondisi daerah yang baru ini merupakan persawahan yang luas dengan beberapa lereng yang curam.Di daerah persawahan (Banjar) inilah didirikan ibukota kabupaten (Negara) yang baru sehingga nama daerah ini menjadi”Banjarnegara”(Banjar:Sawah,Negara:Kota). R.Tumenggung Dipayuda menjabat Bupati sampai tahun 1846.Setelah pensiun dari jabatan bupati Kyai Dipayuda atau Raden Tumenggung Dipayuda IV tidak ada kabar beritanya lagi ditingkat pemerintahan.Maka diangkatlah Raden Adipati Dipadiningrat sebagai penggantinya.
Untuk mengenang asal mula Kota Kabupaten baru yang berupa persawahan dan telah dibangun menjadi kota, oleh Raden Tumenggung Dipoyudho IV, Kabupaten Baru tersebut diberi nama “BANJARNEGARA”(mempunyai maksud Sawah = Banjar, berubah menjadi kota = negara) sampai sekarang.
Setelah segala sesuatunya siap, Raden Tumenggung Dipoyudo IV sebagai Bupati beserta semua pegawai Kabupaten pindah dari Banjar Watulembu ke Kota Kabupaten yang baru Banjarnegara.
Dikarenakan  pada saat pengangkatannya status Kabupaten Banjar Watulembu yang terdahulu telah dihapus, maka Raden Tumenggung Dipoyudho IV dikenal sebagai Bupati Banjarnegara I (Pertama).
Peristiwa Pengangkatan Raden Tumenggung Dipoyudho IV pada tanggal 22 Agustus 1831 sebagai Bupati Banjarnegara inilah yang dijadikan dasar untuk menetapkan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara, yaitu dengan Keputusan DPRD Kabupaten Dati II Banjarnegara tanggal 1 Juli 1981 dan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banjarnegara Nomor 3 Tahun 1994 Tentang Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara.
Perang Diponegoro dan Berdirinya Kabupaten Banjarnegara
Pada tahun 1825 meletus Perang Diponegoro. Sebab-sebab meletusnya perang tersebut adalah akibat ketidakpuasan Pangeran Diponegoro terhadap kebijakan  pemerintah kolonial Belanda yang dianggap akan menggusur makam nenek moyang Pangeran Dipanegoro. Selain itu, persoalan di internal kraton Yogyakarta, terutama tentang suksesi pasca meninggalnya Hamengkubuwono ke-4 juga turut mengobarkan kemarahannya.  Perang Diponegoro berjalan kurang lebih selama lima tahun dan meluas ke hampir seluruh kawasan yang saat itu berada dalam kekuasaan dua kerajaan Jawa, yaitu Kerajaan Yogyakarta dan Kerajaan Surakarta.
Pasukan Diponegoro dalam jumlah yang besar yang dipimpin oleh Putra Pangeran Diponegoro, yaitu Pangeran Surya Atmaja masuk ke Banjar dari arah timur, yaitu dari Kaliwira, Tunggara, Banjar, Kutawaringin, terus ke barat ke Mandiraja, Purwareja-Klampok, dan akhirnya menyeberang ke utara ke Purbalingga. Pada saat itu semua bupati diinstruksikan untuk melawan pasukan Pangeran Diponegoro, tidak terkecuali Bupati Banjar Watu Lembu, yaitu Mangunbrata.
Pada tahun 1830,  Perang Diponegoro dapat diakhiri dengan cara-cara licik yang dilakukan oleh Belanda. Pangeran Diponegoro ditangkap dalam sebuah perundingan pura-pura di gedung Karesidenan Magelang. Ia akhirnya dibuang ke Manado dan Makassar sampai meninggal dunia pada tahun 1855. Akibat dari perang yang berjalan berlarut-larut tersebut menyebabkan Belanda nyaris bangkrut. Belanda tidak mau menanggung kerugian sendirian, dan membebankan biaya perang yang mencapai jutaan gulden kepada dua kerajaan, Yogyakarta dan Surakarta.
Kedua kerajaan tersebut keberatan jika harus menggantinya dengan uang, sehingga dicapai kesepakatan bahwa dua daerah mancanegara, yaitu mancanegara kilen (Banyumas dan sekitarnya) dan mancanegara wetan (Madiun dan sekitarnya) harus diserahkan kepada pihak Belanda. Penyerahan kedua daerah tersebut dilakukan pada pertengahan tahun 1830 beberapa saat setelah Pangeran Diponegoro ditangkap. Sejak saat itu daerah Banjar yang merupakan bagian dari Banyumas, menjadi daerah jajahan Belanda. Belanda segera melakukan penelitian terhadap daerah Banyumas.
Pada tahun itu juga dikirim tiga orang kontrolir, yaitu Tak, Vitalis, dan Daendels (Bukan Jenderal Daendels) untuk melakukan penelitian dan pengamatan terhadap seluruh wilayah Banyumas. Kontrolir Tak meneliti daerah Purbalingga, Kontrolir Vitalis bertugas meneliti daerah Banyumas, dan Kontrolir Daendels bertugas meneliti daerah Banjar (pada waktu itu belum disebut Banjarnegara). Reorganisasi pemerintahan juga segera dilakukan. Banjar dibagi menjadi tiga distrik, yaitu Distrik Banjar, Distrik Sigaluh, dan Distrik Mandiraja.
Setelah terlibat dalam Perang Diponegoro, ternyata pada tahun 1831 Mangunbrata ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar, yaitu bunuh diri dengan cara menusuk perutnya. Mangunsubrata, yang merupakan anak dari Mangunbrata kemudian diangkat menjadi penguasa di Banjar Watu Lembu menggantikan ayahnya. Mangunsubrata tidak terlalu lama memerintah di Banjar Watu Lembu karena pemerintah kolonial Belanda kemudian menetapkan Banjar  sebagai kabupaten, dengan nama baru Kabupaten Banjarnegara, yang berada di bawah kekuasaan mereka dan mengangkat Raden Tumenggung Dipayuda IV menjadi bupati menggantikan bupati lama, Mangunsubrata, yang kekuasaannya bersifat turun-temurun. Penetapan tersebut dilakukan pada tanggal 22 Agustus 1831 berdasarkan Resolutie Gouverneur General Nomor I dan dimuat dalam Staatsblad Tahun 1831. Raden Tumenggung Dipayuda IV membangun pusat kekuasaan baru di daerah Kutawaringin dan diberi nama Banjarnegara. Sejak saat itu Mangunsubrata tidak berkuasa lagi, dan daerah Banjar Watu Lembu berlahan-lahan mengalami kemunduran.
Raden Tumenggung Dipayuda ke-4 adalah keturunan dari Tumenggung Dipayuda I yang merupakan Bupati Purbalingga pada periode awal. Sebelum diangkat menjadi Bupati Banjarnegara, Raden Tumenggung Dipayuda IV adalah penguasa di Adireja dan kemudian di Adipala. Penetapannya sebagai bupati di Banjarnegara kemungkinan besar sebagai bentuk penghargaan dari pemerintah kolonial Belanda dan Kraton Surakarta karena yang bersangkutan telah membantu melawan pasukan Pangeran Diponegoro, beserta bupati-bupati lain di wilayah Banyumas. Selain mengangkat Raden Tumenggung Dipayuda IV sebagai bupati dengan gaji 800 gulden per bulan, pemerintah kolonial Belanda juga mengangkat Kontrolir Daendels menjadi asisten residen di Banjarnegara. Masyarakat setempat memanggil Daendels dengan sebutan Tuan Panggilmister.
Pembangunan di Kabupaten Banjarnegara
Pada saat Banjarnegara ditempatkan di bawah kekuasaan kolonial Belanda, kondisi daerah ini masih terbelakang. Secara umum kawasan banjarnegara merupakan kawasan terisolir yang memiliki hubungan yang sangat minim dengan daerah lain. Jalan-jalan di daerah ini sangat buruk, sungai-sungai banyak sekali yang tidak memiliki jembatan, dan saluran irigasi nyaris tidak ada sehingga lahan pertanian sangat tergantung pada air hujan. Kekuasaan tradisional sebelum Belanda berkuasa di Banjarnegara memang tidak memiliki perencanaan yang matang terhadap pembangunan di daerah.
Tahun 1846 Raden Tumenggung Dipayuda IV digantikan oleh Raden Tumenggung Dipadiningrat. Dipadiningrat memerintah Kabupaten Banjarnegara sampai pensiun tahun 1878, setelah itu digantikan oleh Mas Ngabehi Atmadipura yang sebelumnya menjabat Patih Kabupaten Purworejo.
Setelah menjadi bupati di Banjarnegara bergelar Raden Tumenggung Jayanegara I. Pada saat ia memerintah, pada tahun 1884 sistem irigasi modern pertama di bangun di Banjarnegara dan diberi nama irigasi Singamerta.
Irigasi ini berasal dari sungai Serayu yang dibendung di desa Singamerta kurang lebih empat kilometer sebelah timur kota Banjarnegara. Aliran irigasi tersebut menuju ke arah barat dan mengairi ratusan hektar sawah yang semula merupakan sawah tadah hujan.             
Di distrik Klampok, irigasi tersebut membelah menjadi dua dengan nama saluruan irigasi Blimbing dan saluran irigasi Siwuluh. Tahun 1889 berdiri pabrik gula di Klampok yang dipimpin oleh Administratur J.T. de Ruijter. Pabrik gula ini merupakan perluasan dari pabrik gula di Kalibagor di selatan Sokaraja. Namun perjalanan pabrik gula Klampok tidak berjalan lama, karena pada tahun 1932 pabrik tersebut ditutup akibat terkena dampak krisis ekonomi dunia, yang terkenal dangan nama malaise.
Pada tahun 1896 Raden Tumenggung Jayanegara I meninggal dunia, dan kedudukannya sebagai bupati digantikan oleh anaknya yang bernama Raden Jayamisena, yang sebelumnya menjabat Wedana Distrik Singamerta. Pada saat menjabat bupati, Jayamisena bergelar Raden Tumenggung Jayanegara II. Pada masa Bupati Jayenagara II, pemerintah kolonial Belanda membangun proyek irigasi raksasa dengan membendung Sungai Serayu di utara kota. Proyek irigasi tersebut dimulai tahun 1912 dengan lama pembangunan sekitar lima tahun. Proyek irigasi ini diberi nama Bandjar-Tjahjana Waterwerken (disingkat BTW), karena mengalir dari kota Banjarnegara sampai ke distrik Cahyana (Bukateja) di Purbalingga. Saluran airnya menembus beberapa perbukitan dan menembus di bawah sungai lain yaitu sungai Merawu di desa Jenggawur. Di sini saluran air harus dibuatkan syphon (gorong-gorong dari pipa). Aliran irigasi tersebut tidak boleh bercampur dengan air dari sungai Merawu karena air sungai Merawu menurut penelitian ahli pengairan Belanda tidak baik untuk mengairi sawah. Pembanguna  saluran irigasi Bandjar-Tjahjana tergolong sangat lama yaitu sampai lima tahun karena pengerjaannya sangat sulit dan harus membuat beberapa terowongan yang panjang menembus bukit dan bawah sungai. Dari irigasi ini ribuan tanah kering bisa disulap menjadi persawahan yang subur.
Pada periode ini perbaikan-perbaikan jalan yang menghubungkan ibu kota kabupaten dengan ibu kota distrik maupun ibukota onderdistrik  juga dilakukan. Jalan antara Banjarnegara – Blimbing – Sirongge yang tadinya harus melewati lereng-lereng tebing yang terlalu terjal akhirnya dibuat agak mendatar dengan cara membuatnya berkelok-kelok. Jalan yang menghubungkan Wanadadi – Banjarmangu kemudian ke Rejasa dan Madukara, dengan keputusan Direktur Pekerjaan Umum tanggal 15 Agustus 1905 juga diperlebar. Biaya yang dikeluarkan untuk proyek ini adalah  300 gulden. Demikian juga jalan dari Banjarnegara ke Karangkobar dan Kalibening, disamping dikeraskan di beberapa ruas jalan juga diperlebar.  
Raden Tumenggung Jayanegara II menjadi bupati di Banjarnegara sampai tahun 1927. Pada tahun itu ia menjalani masa pensiun dan digantikan oleh putranya yang bernama Raden Tumenggung Sumitra Kalapaking Purbanegara. Sumitra Kalapaking merupakan pribadi yang hebat. Ia mengenyam pendidikan Indologi di Negeri Belanda, aktif mengikuti gerakan kebangsaan untuk mendukung kemerdekaan Indonesia di Negeri Belanda, dan sempat mengembara ke berbagai Negara di Eropa. Menjelang Indonesia merdeka, ia juga menjadi anggota BPUPKI yang berkedudukan di Jakarta. Pada masa revolusi, Sumitra Kalapaking selain sebagai Bupati Banjarnegara juga menjabat sebagai Residen Pekalongan. Ia menjabat sebagai Bupati Banjarnegara sampai tahun 1950. Sejak saat itu bupati-bupati di Banjarnegara bukanlah keturunan dari bupati sebelumnya, tetapi bupati yang dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Masa feodalisme sistem pemerintahan di Kabupaten Banjarnegara berakhir setelah masa revolusi kemerdekaan, setelah masa kepemimpinan Bupati Sumitra Kalapaking.
‎‎